Thursday, September 25, 2014

Jungkir Balik Dunia Kita

Hari ini, agak sore gitu, ada kejutan kecil. Ada yang kehilangan komputer jinjing. Dua orang sekaligus.
Ceritanya, mereka meeting di salah satu mall. Mereka parkir mobilnya di basement, dan taruh tas berisi komputer jinjing mereka itu di dalam mobil. Singkat cerita, saat mau balik, lubang kunci mobil sudah rusak. Dan dua buah tas mereka raib.


Kisah semacam itu mungkin sudah sering kita dengar. Bukan hal baru, lah. Hanya saja, berhubung yang mengalami teman sendiri, otomatis, pada banyak yang pingin tahu gimana kronologisnya. Ditambah pula, dua orang ini pun sudah diberi "siraman sore" dan kena sanksi dari perusahaan mereka akibat lalai menjaga property perusahaan. Cukup strict sih yah untuk masalah ini. Wajar...

Ada beberapa hal yang menarik perhatian saya. Dalam hal ini, dua orang teman saya ini jelas-jelas korban. Tapi kenapa mereka malah dimarahi? Okelah untuk sanksi perusahaan, memang sudah jadi aturan perusahaan. Benar-salah bisa bervariasi bergantung dari lokasi kita saat itu. Ibarat pepatah, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Tapi, sebagai korban pencurian, yang jelas-jelas mengakibatkan kerugian baik perusahaan maupun pribadi, mengapa mereka dimarahi? Teledor? Teledor kenapa? Bukannya itu tas mereka sendiri? Yang ditaruh di dalam kendaraan mereka sendiri? Yang sudah dikunci dan di parkir di tempat parkir resmi berbayar di dalam gedung? Di mana teledornya?

Pertanyaan lain datang "emang mereka naruhnya di mana?" Ya di dalam mobil lah. "Iya, di mananya mobil? Posisinya?" Ditaruh di kursi di dalam mobil. "Naahh! Itu dia! Harusnya, taruh di kolong atau di belakang, kalau ada yang bisa dipakai untuk menutupi, ya ditutupin! Gitu!" 
Makin menarik nih, pikir saya. Kenapa kita harus setengah mati menyembunyikan barang kita sendiri yang kita simpan di tempat kita sendiri??
Beginilah menurut saya Jungkir Balik Dunia Kita.. (Cieehhh). 

Kalau begitu, hal serupa akan diterapkan begini, kenapa kok kamu bisa kehilangan Laptop dan handphone? Emang kamu taruh mana? Lalu dijawab, saya taruh di meja, dalam kamar tidur saya di rumah. Komentar berlanjut, "wah, harusnya kamu jangan sembarangan taruh di meja" 
Lah! Itu di meja, di dalam kamar tidur saya, di rumah saya sendiri?? Masa ya, saya tetap dibilang teledor??.

Teledor itu, kalau saya jalan-jalan di mall, saya mampir ke suatu toko baju, saya taruh handphone di satu sudut karena ingin bercermin, mencoba baju, lalu saya jalan aja lanjut ke toko lain, dan baru sadar saat pulang. Nah, itu teledor. Saya kehilangan barang karena kesalahan bodoh saya. Tapi kalau kecopetan, kecurian, kerampokan, diperkosa.....??! Saya sih objek penderita! Bukan pelaku!

Kenapa korban malah dipersalahkan?

A. Kasus pemerkosaan. -- makanya, hati-hati kalau di jalan. Jangan pulang malam-malam. Jangan lewat gang sempit. Jangan pakai pakaian yang menggoda.
B. Kasus penjambretan. -- makanya, hati-hati kalau di jalan. Jangan lewat gang sempit, rawan. Jangan pakai perhiasan berlebihan. Jangan pamer.
C. Kasus pencurian barang. -- makanya, jangan salah taruh. Jangan sembarangan simpan barang. Jangan memberi kesempatan. Sembunyikan barangnya. Bawa selalu barangnya, jangan ditinggal.
D. Dll
E. Dll
Lama-lama, ntar kalau terjadi perampokan, yah salah kita sendiri punya rumah! Salah kita sendiri punya kendaraan. Salah sendiri punya barang! Kasus penjambretan, ya suruh siapa pakai perhiasan? Suruh siapa jalan-jalan, suruh siapa LO HIDUP?!! Ya, kan???

Walaupun rumah seseorang saat itu sedang tidak dikunci, bukannya emang tidak boleh sembarangan masuk rumah orang? Kenapa jadi pemilik rumah yang salah karena ngga kunci pintu?
Walaupun ada dompet tergeletak di sebuah meja, bukan berarti bisa langsung diambil dan diclaim jadi milik sendiri, kan. Saya aja, nemu duit jatuh di lantai di suatu minimarket, saya serahkan ke kasir. Lakukan apa yang seharusnya dilakukan.

Untuk yang pernah dengar, kisah nabi Musa, saat dia mendapatkan dua loh batu berisi 10 perintah Allah, di situ jelas-jelas, "Jangan" itu dipakai untuk memperingati para pelaku. Bukan korban.
Jangan Mencuri
Jangan Berdusta
Jangan Membunuh
Jangan Mengingini Milik Sesamamu.
Dll...

Jelas, kan. 
Tapi sekarang semua sudah terbalik. Yang ada sekarang semua menyuruh orang bersiap-siap, jangan sampai jadi korban. Kenapa tidak kembali lagi ke masa lalu, dan menyuruh orang untuk jangan sampai jadi pelaku! Sampai-sampai, tagline terkenal dari sebuah acara kriminal di televisi beberapa tahun lalu menggembar-gemborkan pada kita kalau kejahatan ada karena ada kesempatan. Kesempatan apa?siapa yang kasih kesempatan? Kenapa dianggap kesempatan? Sejak kapan dianggap kesempatan?.

Kapan yah, kalimat "Waspadalah terhadap Kejahatan" bisa berubah jadi "Waspadalah Jangan Jadi Penjahat" 

Aih...



No comments:

Post a Comment

Thank you for dropping your thoughts here!