Thursday, November 18, 2010

STOP TKKG

Always Appears on Novel's Cover
STOP (TKKG in Indonesia)
  I Love reading. A lot. 
Most of my all time favorite readings is comic. I love all kind and theme of comics. Also, I like to read novels.
Here, One of my fave novel from Germany Author, Stefan Wolf.
In Indonesia, This novel is entitled as "STOP" Which stands for the 4 main character: Sporty, Thomas, Oscar, Petra. It's a radio series actually based on Stefan Wolf's Novels. There are also the  cartoon version and  the real version of them! :) Made in 28.09.2006 on German Movie.

TKKG real version in TV Series 2002 Ein Fall für TKKG  - http://www.epguides.de/tkkg

TKKG in real version 28.09.2006. German Movie - http://www.cineclub.de/filmarchiv/2006/tkkg.html

TKKG in cartoon version -  http://www.tivola.de/tkkg.html
 What makes me have a bright post about this STOP novel, is that when I want to review it on my Goodreads, I couldn't find it. So, I started to search it on The Almighty Google. I typed "STOP" and i didn't find what I after to. Then I Typed "STOP sporty thomas oscar petra" and Voila..... some results appear..
What confused me is that the result is "TKKG" Curious of course, so i got in!
I read the whole article, and yes it tells about the novels i read a lot. But there are some differences there.

There are:
T : Tim (Peter Timotheus Carsten, A.k.a Tarzan) --> Known as Sporty in STOP.
K : Karl Vierstein A.K.A Computer --> he's named as Thomas in STOP.
K : Klößchen (German for Dumpling) His real name is Willi Sauerlich --> named as Oscar in STOP
G : Gaby, with real name Gabriele Glockner A.K.A "Pfote" (Paw) --> named Petra in STOP.
after those confusions, there is 1 more thing that makes me more confuse is that these four's mascots, Gaby's Spaniel Dog named "OSKAR"! This dog was called "Bello" in all STOP series.
Well, but then I found out that these superb novels had been translated into almost 100 countries around the world. In here,Indonesia, TKKG's were translated to Indonesia and some of the characters' names were changed. In order to simplify the pronounce and fit in the translation story lines.

TKKG was changed to STOP; from the names of the characters:
  • Tim's name was change to Sporty, alias Peter Carsten.
  • Karl's name was change to Thomas, alias Computer. His real name was Thomas Vierstein.
  • Doughnut's name was change to Oskar, alias Fatso. His real name was Oskar Sauerlich.
  • Gaby's name was change to Petra, alias Paw. Her real name was Petra Glockner.
  • Oskar's name was change to Bello, Petra's spaniel dog and the mascot of STOP.
The first 9 games were translated into English (the first 3 were sold in English-speaking countries; the last 6 were not and were translated for educational reasons). TKKG was kept as the names, but changed;
  • Tim became Tiger, or Peter Carsten.
  • Karl became Kevin Forestone or the Computer.
  • Gaby became Katy Crocker, or the Paw.
  • Klößchen became Grunter, or Basil Sowerby.
Stefan Wolf Unterschrift
 Whatever.. These novels are cool and recommended! :)

Friday, November 12, 2010

Danau Toba

Danau Toba. Sumber: http://www.facebook.com/group.php?gid=139246489429935&v=wall&so=45#!/group.php?gid=139246489429935&v=wall
 
Kalau memang orang Indonesia, judul saya di atas tentu bukan hal yang asing di telinga. Bahkan di mata. 
Danau Toba, sebuah danau Vulkanik yang terletak di Sumatera Utara, Indonesia. Ukurannya luas, 100km x 30km sehingga dinobatkan sebagai danau terbesar di Asia Tenggara. Kedalamannya kurang lebih 450 meter, dan terletak 906 meter di atas permukaan laut.
Yang membuat Danau Toba makin unik adalah terdapatnya sebuah pulau vulkanik di tengah-tengah Danau tersebut, Pulau Samosir.

Tak sedikit wistawan domestik maupun asing yang tertarik berkunjung ke Danau tersebut. 
Dalam kunjungannya pada 1996, Pangeran Bernard dari Belanda bahkan menyatakan kekagumannya pada panorama indah danau ini. “Juallah nama saya untuk danau ini. Saya tak dapat melukiskan betapa indahnya Danau Toba,” katanya antusias. 

Terdapat tujuh kabupaten di sekeliling Danau Toba, yakni Simalungun, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Dairi, Karo, dan Samosir yang memiliki panorama alam indah dan menjadi lokasi tujuan wisata. Umumnya wisatawan menikmati keelokan Danau Toba dari Parapat di Simalungun dan Tuktuk Siadong di Pulau Samosir.

Berangkat dari sebuah kalimat sngkat dalam jejaring sosial yang mengatakan kalau Danau Toba berasal dari letusan Gunung Berapi yang sangat dahsyat hingga mengakibatkan perubahan iklim dunia, saya pun penasaran dan memulai proses pencarian di mesin-mesin pencari.

Danau Toba

LETUSAN GUNUNG BERAPI
73.000-75.000 tahun yang lalu adalah perkiraan ledakan sebuah supervolcano atau gunung berapi super yang menyebabkan terjadinya Danau Toba.
Menurut Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University, bahan-bahan vulkanik yang dimuntahkan gunung supervolcano tersebut sebanyak 2.800 km3, dengan 800km3 batuan Ignimbrit dan 2.000 km3 abu vulkanik yang diperkirakan tertiup angin ke Barat selama dua minggu.
Debu vulkanik yang tertiup angin tersebut menyebar hingga separuh bumi, dari Cina hingga Afrika Selatan. Letusannya sendiri terjadi selama satu minggu dan lontaran debunya mencapai 10KM di atas permukaan laut.

AKIBATNYA?
Kematian massal dan kepunahan beberapa spesies pun terjadi di masa ketusan ini. Menurut beberapa bukti DNA, letusan ini juga mengakibatkan menyusutnya jumlah manusia hingga angka 60% dari jumlah populasi saat itu, sekitar 60 Juta manusia.
Satu hal akibat yang ditimbulkan, walaupun masih jadi perdebatan para ahli adalah terjadinya zaman es.
Setelah letusan itu terjadi, terbentuklah Kaldera yang kemudian terisi oleh air dan menjadi Danau Toba yang kita kenal sekarang ini. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir.

KISAH BERIKUTNYA
Tim Peneliti Multidisiplin Internasional, dipimpin oleh Dr. Michael Petraglia mengungkapkan dalam suatu konferensi pers di Oxford, Amerika Serikat, bahwa telah ditemukan situs arkeologi baru yang cukup spektakuler oleh para ahli Geologi di Selatan dan Utara India. Pada situs itu terungkap bagaimana orang bertahan hidup, sebelum dan sesudah letusan Gunung berapi (supervolcano) Toba pada 74.000 tahun yang lalu. Serta adanya bukti tentang kehidupan di bawah timbunan abu Gunung Toba. Padahal, sumber letusan berada 3.000 mil dari sebaran abunya.

Selama tujuh tahun, para ahli dari Universitas Oxford Amerika itu meneliti proyek ekosistem di India untuk mencari bukti adanya kehidupan dan peralatan hidup yang mereka tinggalkan di padang yang gundul. Daerah seluas ribuan hektare ini rupanya hanya padang rumput (Sabana). Sementara tulang belulang hewan berserakan. Tim peneliti tersebut pun menyimpulkan, daerah yang cukup luas ini ternyata ditutupi debu dari letusan Gunung Berapi purba.

Penyebaran debu Gunung berapi tersebut sangat luas,dan ditemukan hampir di seluruh dunia. Berasal dari sebuah erupsi supervolcano purba, yaitu Gunung Toba. Dugaan pun mengarah ke Gunung Toba karena ditemukannya bukti bentuk molekul debu vulkanik yang sama di 2.100 titik. Mulai dari Kaldera kawah yang kini telah menjadi Danau Toba di Indnesia hingga 3.000 mil dari sumber letusan.
Yang cukup mengejutkan, penyebaran debu tersebut rupanya terekam hingga Kutub Utara. Hal ini dapat memberi gambaran para ahi (bahkan kita yang awam), betapa dahsyatnya letusan Supervlcano Toba saat itu. Bukti-bukti yang ditemukan, memperkuat dugaan, bahwa kekuatan letusan dan gelombang lautnya sempat memusnahkan kehidupan di Atlantis.

Source: sumber 1 dan sumber 2  

I Love The Way You Lie

I LOVE THE WAY YOU LIE
Eminem feat. Rihanna

Eminem and Rihanna. Source: http://www.google.co.id/images?um=1&hl=id&biw=1126&bih=633&tbs=isch:1&&sa=X&ei=k9PcTPqjBZP0cdvN6eEL&ved=0CCAQBSgA&q=i+love+the+way+you+lie&spell=1
Just gonna stand there And watch me burn
But that's alright Because I like The way it hurts
Just gonna stand there And hear me cry
But that's alright Because I love
The way you lie I love the way you lie
I love the way you lie

I can't tell you what it really is I can only tell you what it feels like
And right now there's a steel knife In my windpipe
I can't breathe But I still fight While I can fight
As long as the wrong feels right It's like I'm in flight
High of a love Drunk from the hate
It's like I'm huffing paint And I love it the more that I suffer I sufficate
And right before im about to drown She resuscitates me
She fucking hates me And I love it
Wait Where you going I'm leaving you No you ain't Come back
We're running right back Here we go again It's so insane
Cause when it's going good It's going great
I'm Superman With the wind in his bag She's Lois Lane
But when it's bad It's awful I feel so ashamed
I snap Who's that dude I don't even know his name
I laid hands on her I'll never stoop so low again
I guess I don't know my own strength

Just gonna stand there And watch me burn
But that's alright Because I like The way it hurts
Just gonna stand there And hear me cry
But that's alright Because I love The way you lie
I love the way you lie
I love the way you lie

You ever love somebody so much You can barely breathe
When you're with them You meet And neither one of you
Even know what hit 'em Got that warm fuzzy feeling
Yeah them chills Used to get 'em
Now you're getting fucking sick Of looking at 'em
You swore you've never hit 'em Never do nothing to hurt 'em
Now you're in each other's face Spewing venom
And these words When you spit 'em You push Pull each other's hair
Scratch, claw, bit 'em Throw 'em down Pin 'em
So lost in the moments When you're in 'em It's the rage that took over
It controls you both So they say it's best To go your separate ways
Guess that they don't know ya Cause today That was yesterday
Yesterday is over It's a different day Sound like broken records
Playin' over But you promised her Next time you'll show restraint
You don't get another chance Life is no Nintendo game
But you lied again Now you get to watch her leave Out the window
Guess that's why they call it window pane

Just gonna stand there And watch me burn
But that's alright Because I like The way it hurts
Just gonna stand there And hear me cry
But that's alright Because I love The way you lie
I love the way you lie
I love the way you lie

Now I know we said things Did things That we didn't mean
And we fall back Into the same patterns Same routine
But your temper's just as bad As mine is You're the same as me
But when it comes to love You're just as blinded
Baby please come back It wasn't you Baby it was me
Maybe our relationship Isn't as crazy as it seems
Maybe that's what happens When a tornado meets a volcano
All I know is I love you too much To walk away though
Come inside Pick up your bags off the sidewalk
Don't you hear sincerity In my voice when I talk
Told you this is my fault Look me in the eyeball
Next time I'm pissed I'll aim my fist At the dry wall
Next time There will be no next time I apologize
Even though I know it's lies I'm tired of the games
I just want her back I know I'm a liar
If she ever tries to fucking leave again I'mma tie her to the bed
And set the house on fire

Just gonna stand there And watch me burn
But that's alright Because I like The way it hurts
Just gonna stand there And hear me cry
But that's alright Because I love The way you lie
I love the way you lie
I love the way you lie

Tuesday, November 09, 2010

Teater atau Sinetron

Teater atau Sinetron?

Dalam kehidupan yang penuh dengan berbagai aspek, seni muncul sebagai penyeimbang hidup kita selain rasio. Seni memiliki beberapa cabang yang sudah sangat kita kenal, contohnya seni musik, seni suara, seni tari, seni lukis, seni pertunjukan, dan lainnya. Salah satu cabang seni yang saat ini sedang sangat menjamur di tanah air adalah seni pertunjukan, baik sinetron, maupun teater. Banyak aktor dan aktris yang tergabung dalam keduanya, atau berpindah dari teater ke sinetron dan sebaliknya. Beberapa nama aktris dan aktor yang sudah sangat kita kenal yaitu Adi Kurdi, Butet Kertaradjasa, Cornelia Agatha, Happy Salma, Sarah Sechan, Wulan Guritno, Rachel Maryam, dan masih ada deretan nama-nama lainnya termasuk ke dalamnya.

Butet Kertaradjasa yang berangkat murni dari teater, mulai dikenal di dunia film Indonesia semenjak ia berperan sebagai salah satu tokoh di drama parodi politik di salah satu stasiun televisi swasta kita. Bahkan, beliau juga bermain dalam salah satu teater politik yang diputar di stasiun televisi swasta kita bersama dengan beberapa aktor teater yang –mungkin- kita tidak pernah tahu atau bahkan kita lihat sebelumnya. Bahkan, baru-baru ini ada suatu pementasan teater yang melibatkan beberapa pesinetron tenar di Indonesia.

Melihat fenomena ini, banyak sekali yang bertanya-tanya, ”Memang, apa sih bedanya teater dan sinetron?”.
Pertanyaan ini sangat sering diutarakan, bahkan oleh para pelaku (pemain teater dan sinetron) sendiri. Pertanyaan ini timbul juga karena ada beberapa pernyataan yang menyatakan bahwa dalam teater, kita dituntut untuk lebih ekspresif, pelatihan-pelatihan untuk menjadi pemain teater dikatakan sangat susah dan berat. Padahal, dalam kenyataannya, yang ditunjukkan dalam pementasan hampir sama dengan sinetron yang ada di televisi-televisi kita. Jadi, sebenarnya, apa sih perbedaannya?

Dari segi definisi kata, teater (theater) berasal dari kata Yunani, Theatron yang berarti ”tempat untuk menonton” adalah salah satu cabang seni pertunjukan yang berkaitan dengan akting atau seni peran di depan penonton dengan menggunakan gabungan dari ucapan, gestur (gerak tubuh), mimik, boneka, musik, tari, dan lain-lain. Teater dapat berbentuk opera, ballet, kabuki, pantomim, taboo, dan lain sebagainya.
Sementara sinema elektronik, yang lebih dikenal dengan akronimnya yaitu sinetron, adalah sandiwara bersambung yang disiarkan oleh stasiun televisi. Sinetron pada umumnya bercerita mengenai kehidupan manusia sehari-hari yang diwarnai oleh konflik. Akhir dari suatu sinetron bisa beragam, tergantung dari penulis skenario.

Dalam pelaksanaannya, sinetron memang lebih fleksibel, karena episodenya dapat diperpanjang berdasarkan kebutuhan, yang salah satunya untuk tujuan komersial. Misalnya, sinetronnya sedang naik daun, banyak iklan yang dipasang, dan berbagai alasan lainnya. Dalam teater, justru kita tidak dapat terlalu memperpanjang ceritanya, karena dapat membuat para penonton cenderung bosan. Dalam penayangan sinetron, ada iklan yang menjadi waktu rehat penonton, sementara dalam teater, penonton dituntut untuk berkonsentrasi pada keseluruhan pertunjukan yang disajikan.
Beberapa perbedaan secara teknis dan cara penyuguhan juga lumayan mencolok dalam teater dan sinetron. Dalam seni teater, pengucapan vokal harus sangat kuat, penggunaan ekspresi emosi harus extreme dan make-up panggung juga harus tegas dan sedikit lebih extreme, karena penampilan dilakukan di atas panggung, sehingga suara, ekspresi dan riasan wajah yang mendukung harus sampai hingga ke penonton di barisan paling belakang. Selain itu, penampilan show dari awal hingga akhir harus sempurna, karena tidak ada jeda maupun pengulangan adegan. Antar pemain harus benar-benar kompak dan slaing mengisi, karena bila salah satu kacau, maka hancurlah seluruh pertunjukkan.
Sementara itu, dalam seni drama sinetron, tidak memerlukan pengucapan vokal yang kuat, karena diperkuat dengan microphone, emosi tidak perlu kuat, karena akan diperkuat oleh kamera yang mengambil secara short shoot atau close up. Make up juga tidak harus berlebih, karena akan diperkuat dengan efek kamera. Setelah itu, adegan dapat diambil secara partial dan dapat diulang bila terjadi suatu kesalahan.

Berdasarkan beberapa ulasan di atas mengenai teater dan sinetron. Dimulai dari definisinya, penerapan, hingga perbedaan secara teknisnya, maka dapat disimpulkan, bahwa teater dan sinetron memanglah dua cabang yang berbeda dari suatu seni pertunjukan, tapi tetap saja merupakan suatu penampilan yang dikemas secara apik sesuai dengan standar masing-masing untuk dinikmati oleh penonton kalangannya masing-masing.(ets)


 Posting ini adalah tugas kuliah saya yang juga pernah dimuat di sini

MyThesis

Just wanna share the link to catch up my thesis : here
:)
Suddenly remember those moments. Hahaha...

Monday, November 08, 2010

Pengajaran atau Pengajaran?

Eh, aku hanya tiba-tiba ingat saja pengalaman di semester pertama menempuh bangku kuliah.
Tulisan ini nantinya tidak akan bertendensi ke mana-mana selain refleksi diriku sendiri terhadap lingkungan sekitar. Tidak bermaksud menjelek-jelekkan, namun berbagi hal yang ada gunanya juga -menurutku-
Ada sebuah mata kuliah yang kupikir akan sangat berat. meningat membawa-bawa nama "Filsafat" di dalamnya. Matakuliah Filsafat Agama.
Karena kampusku kampus Kristen, maka, setelah kata 'Agama' akan ada kata 'Kristen' yang mengikuti.
Aku cukup tertarik lantaran dari dulu aku suka sekali membaca buku Mitologi Yunani. Penasaran sekali waktu itu, apa sih yang akan dibuahkan Filsafat ini untukku.

Dosen yang mengajar laki-laki. Masih cukup muda. Sudah menikah. WNI keturunan Tionghoa yang membuat beberapa mahasiswa mengagumi wajahnya yang segar dan babyface. Oh, aku? Maaf, bukan seleraku.
Cara beliau berbicara juga -menurutku- kurang enak didengar. Maksudku, seorang laki-laki dengan suara sengau dan cempreng berceloteh selama 3 SKS bukanlah pilihan utama. Tapi ini wajib, dipilihkan dari Jurusan pula.

Ada cukup banyak hal yang aku serap dari beliau. Sayangnya, menurutku masih kurang. Bukannya jelek, tapi kurang. Sempat beliau menghadirkan tabel 5 agama yang diakui Indonesia dengan berbagai point pembagian untuk penjelasannya. Sayangnya, untuk tabel-tabel agama selain Kristen dan Katolik, aku kurang puas. Menurutku, lebih ke arah aku mendengarkan beliau mendongeng hal-hal yang sudah banyak sekali bisa kita dapatkan dari google.com.
Nothing special.
Aku mulai sedikit menyipitkan mata untuk kelas ini. Namun, beberapa poin tambahan yang kudapat karena berhasil menjawab beberapa pertanyaan -dengan pemahamanku sendiri- cukup menaikkan moodku. Ya, aku menjawab pertanyaan-pertanyaan yang beliau lempar dengan pemahamanku sendiri, dan disetujui. Siapa sih yang nggak senang dengan kondisi seperti itu.
Bisa adu otak, pamer kepintaran, dapat tambahan poin pula.
Sampai di suatu saat ketika kami harus Ujian Tengah Semester. Pertanyaan-pertanyaan yang tertera lebih ke arah soal cerita dengan akhiran  "Apa yang akan kau lakukan...", "Bagaimanakah Anda akan bersikap..." dan sejenisnya. Selang seminggu, hasil UTS pun dibagikan. Lumayan, dapat skor angka yang masuk dalam range nilai A. Yang mulai membuat aku malas, adalah saat beliau mulai membahas UTS tersebut.
Oke..
Beliau pun mulai bertutur dan menyebutkan pendapatnya untuk UTS barusan. Cukup memuaskan. Namun, sayang ada beberapa yang salah menurutnya. Di sini aku bingung. Salah? Apa yang salah dari Ujian seperti itu?
Rupanya, untuk pertanyaan-pertanyaan "Apa yang akan kau lakukan...", "Bagaimanakah Anda akan bersikap..." dan sejenisnya itu beliau sudah memiliki jawaban idealnya sendiri. Mahasiswa yang menjawab sesuai dengan jawaban idealnya itulah yang mendapat poin penuh di tiap nomor. Spontan aku tertawa dalam hati. "Wah, parah," gumamku. Apa bedanya dong soal ini dengan pelajaran PPKn zaman SD?
"Apa yang akan kau lakukan bila melihat dua orang temanmu berkelahi?"
A. Diam Saja                        B. Melerai
C. Lari                                  D. Ikut berkelahi
Secara PPKn saat SD, kalau kita tidak memilih opsi B, jangan harap jawaban kita dibenarkan.
Salah seorang ponakan, waktu kelas 1 SD mendapatkan soal yang serupa. Serunya, dia menjawab A. Waktu ibu gurunya bertanya "Kenapa kamu jawab A, seharusnya kan B," dengan polos ponakanku menjawab, "Nggak ah, Bu. Kalau melerai pasti saya ikut dipukul. Mendingan diam saja."

Rupanya UTS kelas Filsafatku ini masih selevel dengan PPKn kelas 1 SD.
Tak berhenti sampai di situ, kami pun ada Ujian lagi. Mengenai pembahasan kuliah yang sudah-sudah. Mengenai agama-agama dan perkembangannya serta beberapa contoh kasus.
Seperti biasa, beliau menelurkan soal-soal yang serupa, ditambah soal teoritis mengenai agama-agama.
Aku cukup puas dengan hasil ujian kali ini. Namun, sekali lagi aku tertawa dalam hati saat beliau membahas hasil ujiannya dan mengatakan yang jawabannya paling benar dan sempurna adalah milik teman sekelas kami, si A. Oke, kami semua kagum padanya. Tapi kekaguman itu berhenti sampai di situ hingga Dosen kami membacakan hasil jawaban teman si A ini dalam lembar jawabannya.
Dari 5 soal yang dilontarkan, hasil jawaban si A adalah semua celotehan Bapak Dosen. Tidak kurang, tidak lebih. Sampai pemenggalan kalimatnya (oke, aku berlebihan), bahkan contoh-contohnya.
Sontak, kami sekelas berdengung seperti lebah. Dengungannya rata-rata serupa "Gila, mirip bener sama ceramahnya Pak Dosen" "Wih, yang bener aja. Berarti jawaban yang bener ya harus copy-paste dari Dosennya dong" dan sejenisnya.

Makinlah aku memandang sebelah mata kelas ini, dan sang Dosen.
Sampailah kami di akhir-akhir semester. Beliau mengajak kami berlatih saling mengutarakan pendapat. Istilah kerennya, Debat.
Pak Dosen memanggil 1-2 orang dari kami, dan memposisikan mereka sebagai umat Kristiani. Sementara dia sendiri sebagai orang Atheis. Sampai sekarang aku belum tahu beliau benar-benar tahu nggak sih orang Atheis itu seperti apa. Oke, lah.
Singkat cerita, beliau memberikan satu wacana yang akan didebatkan antara 2 orang umat Kristiani (teman-teman kami) melawan 1 orang Atheis (dirinya). Caranya cukup baik dengan meminta kami memanfaatkan seluruh pelajaran yang sudah pernah ia berikan. Bisa sekalian refresh otak lagi selama satu semester ini.
Sampai di satu bagian, teman kami yang rupanya cukup pandai berkata-kata, membuat Pak Dosen agak gelagapan. Langsung meluncur "debat pembelaan" dari mulut Beliau "Ya itu kan menurut Anda, menurut saya tidak, tuh!" spontan teman kami tidak bisa bicara lagi, dan beliau "memenangkan debat pagi hari itu"

Aku hanya bisa menghembuskan nafas. Parah. Kalau keluarnya statement seperti itu, buat apa ada saling mengutarakan pendapat! Dari awal, berdebat ya memang begitu kan dasarnya. Menurutmu dan menurutku.
Kalau begini, sampai sekarang aku masih tidak paham bagaimana Filsafat itu. Apalagi Filsafat Agama. Apalagi Filsafat Agama Kristen.

Tuesday, November 02, 2010

FIRE

It was me drove along in the car, and then the radio played such a cozy tune. I memorized the lyrics, then search for it on google. VOILA! Here's the song :) You could NOT ask for more!!!!!!

Babyface feat Des'ree - Fire

FIRE
written by Bruce Springsteen (1979)
performed by Babyface & Des'ree

You're riding in my car
I turn on the radio
I'm pulling you closer
But you keep tellin' me no
You say you don't like it
But I know you're a liar
'Cause when we kiss
Ooh...

Fire

Late at night
You're taking me home
You say you wanna stay
But I want you to go
Say I don't love you
But you know I'm a liar
'Cause when we kiss
Ooh...

Fire

You had a hold on me right from the start
A grip so tight I couldn't tear it apart
My nerves all jumpin' actin' like a fool
Well my kisses might burn
But my heart stays cool

Well Romeo and Juliet
Sampson and Delilah
Baby you can bet
They were burnin' with desire
If I say split
Then I know that I'd be lying
'Cause when we kiss
Ooh...

Fire

When we kiss
I'm on fire
Your tenderness
Gives me desire
I can't resist
Your tender lips
When we kiss
Ooh...

Fire

When we kiss
I'm on fire
Your tenderness
Gives me desire
I can't resist
Your tender lips
When we kiss
Ooh...

Fire

 
Watch this two offered us such a WRAP song!! here
Download Babyface feat Des'ree - Fire here
With no too many moves, without too much here and there, this song was a way to go! You'll never able to stop your body to groove.

Here is the Original Version:

I'm driving in my car. I turn on the radio
I'm pulling you close. You just say no
You say you don't like it. But girl I know you're a liar
`Cause when we kiss oooh Fire

Late at night. I'm takin' you home
I say I wanna stay. You say you wanna be alone
You say you don't love me. Girl you can't hide your desire
`Cause when we kiss oooh 
HOOK

You had a hold on me right from the start. A grip so tight I couldn't tear it apart
My nerves all jumpin' actin' like a fool. Well your kisses they burn but your heart stays cool


Romeo and Juliet. Samson and Delilah
Baby you can bet. Their love they didn't deny
Your words say split. But your words they lie
`Cause when we kiss oooh..

HOOK

Spongebob

There was one time, a friend of mine sent me a short message via BlackBerry Messenger. Simple, but meaningful. Please enjoy.

"
WHY IS SPONGEBOB THE MOST IDEAL FRIEND?

Spongebob + Pattrick


Pattrick : He still loves me even if I'm stupid. 
He ignores my weakness.


Spongebob + Squidward


Squidward : I always drive him away and yet he is still there for me. 
He never left me behind.


Spongebob + Mr. Krabs


Mr. Krabs : He respects me though all I desire is money. 
He respects what I want.


Spongebob + Sandy


Sandy : He is still my fried even though I'm a land squirrel and not a sea creature. 
He accepts me despite our difference.

"

What do others learn from us? :)

**all images are google.image courtesy. 

Saturday, October 30, 2010

Fairytale in Life

Once upon a time, lived on a down down forest, a very beautiful girl was picking up the grasses. Those weren't just grasses, but medical grasses. She had to chose which one is useful which one is not. She need those grasses for ingredients to make a cup of medicine. There was her old poor grandmother laid handicapped in their bed. Not a bed actually, just a blade of board covered with a very ugly thin blanket.
.
.
.
For short, the girl could save a king's beloved son because she had a lot of knowledge regarding traditional medicine using natural material. The king loved her then, and make her marry his beloved saved son.
And they lived happily ever after.....

------------ The End -----------

A very typical lie of living was created on our brain far away when we are still kiddos. The fairytale always provide us a very lovely pattern. A hard beginning which will been paid at the end. No matter how hard your life is, you'll find the knight on your dream. Whoever he is, wherever he came from. And all the villains would disappear and or be good somehow.
But did the "Happily Ever After" really exist? Am not sure. There's a live after marriage which never ready to be explained.
I don't know either why the author never had any story about that.
Or perhaps, the fairytales are made to be just dream?

Friday, October 29, 2010

Boredom

What is wrong with a routine? Nothing but the boredom.

Boredom
The feeling of Okay, so I will enter the room, put all my carrier, and turn on that and this, and I'll start doing A, B, and C..
And that list will keep running continuously for 5 days a week.
For what or whose sake we doing that such boring routine? No one sake but ourselves, and for none but our own needs.

"Unless a man has been taught what to do with success after getting it, the achievement of it must inevitably leave him a prey to boredom.”  ~Bertrand Russell


Monday, October 25, 2010

Hotel California - The Eagles

 Salah satu lagu dengan sarat makna. Bukan sekedar makna dari lagu itu, tapi juga history yang ada melatarbelakangi lagu ini. Really, it was a real wrap, The Eagles!!

image by : yahoo.image


 HOTEL CALIFORNIA
On a dark desert highway, cool wind in my hair
Warm smell of colitas, rising up through the air
Up ahead in the distance, I saw a shimmering light
My head grew heavy and my sight grew dim
I had to stop for the night
There she stood in the doorway;
I heard the mission bell
And I was thinking to myself,
’this could be heaven or this could be hell’
Then she lit up a candle and she showed me the way
There were voices down the corridor,
I thought I heard them say...

Welcome to the hotel california
Such a lovely place
Such a lovely face
Plenty of room at the hotel california
Any time of year, you can find it here

Her mind is tiffany-twisted, she got the mercedes bends
She got a lot of pretty, pretty boys, that she calls friends
How they dance in the courtyard, sweet summer sweat.
Some dance to remember, some dance to forget

So I called up the captain,
’please bring me my wine’
He said, ’we haven’t had that spirit here since nineteen sixty nine’
And still those voices are calling from far away,
Wake you up in the middle of the night
Just to hear them say...

Welcome to the hotel california
Such a lovely place
Such a lovely face
They livin’ it up at the hotel california
What a nice surprise, bring your alibis

Mirrors on the ceiling,
The pink champagne on ice
And she said ’we are all just prisoners here, of our own device’
And in the master’s chambers,
They gathered for the feast
They stab it with their steely knives,
But they just can’t kill the beast

Last thing I remember, I was
Running for the door
I had to find the passage back
To the place I was before
’relax,’ said the night man,
We are programmed to receive.
You can checkout any time you like,
But you can never leave!
--------------------------------------------------------------------------------------
 curious to hear this song. You may download it here

Sunday, October 24, 2010

My Work

Few posts ago.. hahaa.... If on a fairy tale, you'll find A long time ago.. :)okay, I've made two posts contain with my writing while I was on internship. But guess, there was a problem with the link, so I consider to put a link again in this post :)
 
you may open this link here : CLICK HERE
and also this ONE and this ONE. The admin had my name wrong written, so it couldn't be listed at the previous link.
And this ONE and this ONE . The admin had not completely my full name written. But it's okay for me.
You'll find the lists of my writing while I was on internship :)
How I miss those Journalism activities...

Saturday, October 23, 2010

The Best Man of My Life


No special purpose of writing this. It's just, last night, when I came home very late, there was my father, half asleep, waited for me on his favorite couch while the TV still on.
He got a bit upset when I'm not reach home quickly, but he never not wait for me to reach home and greeting him "Hay, Dad!".

“When a man has done his best, has given his all, and in the process supplied the needs of his family and his society, that man has made a habit of succeeding.”-Mack R. Douglas


Dad

My father used to play with my brother and me in the yard.  Mother would come out and say, "You're tearing up the grass."  "We're not raising grass," Dad would reply.  "We're raising boys."  ~Harmon Killebrew


Daddy and Me

Dad and Mom

“It takes a family to raise a child.” -Bob Dole



The Happy Blessed Family



“He didn't tell me how to live; he lived, and let me watch him do it.”
-Clarence Budington Kelland
 

Friday, October 22, 2010

Knows Well

Sedang melamun saja, tiba-tiba aku teringat suatu cerita yang menggelikan, namun menjadi pelajaran.
Pernah mendengar istilah "Para pelaku mengenal korbannya dengan baik"?
Hal ini tidak berarti pelaku adalah orang yang dekat dengan korbannya, atau bahkan kerabatnya. Namun, para pelaku tersebut dapat mengenali 'korban'nya dengan baik. Kasus ini bukan terjadi padaku, tapi aku cukup mengikutinya.

Jadi begini...
Seorang rekan suatu kali pernah mendapatkan pesan pribadi via salah satu jejaring sosial. Dalam pesan tersebut disebutkan bahwa pengirim pesan tertarik dengan paras rekanku yang menurutnya cantik dan menarik hati.Ia pun memuai dengan mengajukan tawaran klise "dapatkah kita menjadi teman baik?" yang dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan klasik ala chatting MIRC zaman dulu.
Secara normal sih, di umur yang cukup matang, seharusnya rekanku ini nggak akan termakan tipuan kuno begini. Tapi, apa yang terjadi? Malahan dia nampak senang dan berbunga-bunga dengan kalimat-kalimat manis yang keluar dari pengirim pesan terebut.
Tak pakai pikir panjang, aku pun bilang "Hati-hati lho, Mbak," namun, ada jurus pamungkas dari rekanku, "Lho, tapi beneran kok. Fotonya asli-asli semua, bahkan yang di list kerabatnya juga ada semua. Dia dulunya tentara." Nah lho, berhubung aku juga nggak lihat langsung, aku pun nggak banyak komentar.

Esoknya, kupikir sudah selesai deh masalah beginian aja. Eh, rupanya tebakanku salah kali ini. Pagi-pagi rekanku angsung minta tolong aku mengartikan pesan dari pengirim pesan yang sama itu. Lah.. masih lanjut to rupanya. Ohya, si pengirim pesan itu ngakunya sih orang Amerika campuran Spanyol gitu. Oke deh.. Aku pun membaca ketikan huruf yang berjajar rapi di kertas yang dibawa rekanku tadi. Oh my, this crazy stranger stated that he wants to marry my friend! Gee!! Could you imagine it?
Langsung deh aku bilang "haduh, mbak, ini nggombal ga jelas. Udah ga usah ditanggapin lagi. Biarin aja. Hati-hati lho nanti ada apa-apa.." Yang langsung ditanggapi dengan sedikit kebingungan oleh rekanku tadi, "Lho, iya. Trus ini gimana? Kubales gimana?" agak geli juga sih aku denger rekanku yang satu ini. "Ya sudah, Mba, gini aja, bilang aja kalau nggak bisa lebih dari sekadar teman. Soalnya Mba udah nikah. Gitu aja. Mendingan tapi jangan kontak apa-apa lagi deh..." Sahutku yang waktu itu langsung dapat persetujuan darinya."Soalnya, aku seumur hidup nggak pernah dapet surat cinta yang romantis ini lho. Seneng aja gitu..." Jelasnya. Wah.. repot deh kalo udah gini.
Selang waktu dua hari, aku sudah nggak dengar lagi rekanku ngomongin tentang itu. Tiba-tiba, waktu makan siang, rekanku tanya lagi arti dari beberapa kalimat dalam bahasa Inggris. Selesai kuartikan, mendadak curiga nih. "Lho, ini yang kapan hari?" dia cuma mengangguk sambil senyum-senyum. "Lho.. masih lanjut, to? Wes.. hati-hati aja yah, Mba.."

Belajar dari pengalaman rekanku ini, yang kayaknya masih berlanjut, aku cuma bisa lebih waspada saja, dan lebih logis lagi, deh.
Kayaknya, si pengirim pesan, apapun motifnya, sudah 'mengenal' rekanku ini entah bagaimana caranya. Dia bisa mengerti bagaimana membawa rekanku ke awang-awang dan melanjutkan kontak nggak jelas ini.
Nggak heran deh banyak yang tertipu via dunia maya. Dulu kupikir-pikir kok ya bisa ya ketipu  dengan mudah gitu. Nggak kenal sama sekali, eeh bisaaa aja dibawa lari. Tapi sekarang sudah ada yang mulai "terbawa" nih di dekatku..
Hati-hati, karena sang pelaku sudah mengerti bagaimana menggiring Anda!

Thursday, October 21, 2010

GAJA...

3.
Kelas Bahasa Indonesia di sore hari. Bapak dosennya berperawakan gemuk dan tidak terlalu tinggi. Paling-paling yaaah beda-beda tipis lah sama aku tinggi badannya. Hahahaaaa... Rambutnya tipis, hampir botak, tapi kumisnya cukup tebal, lho.
Suara beliau tidak terlalu keras, sehingga alat bantu bernama microphone pun digunakan. Walhasil, suaranya jadi keras sekali memenuhi seluruh ruangan. Berhubung ini juga pertemuan pertama, Pak dosen tidak berceramah terlalu panjang-lebar. Sedikit aturan main yang hampir sama deh dengan kelas sebelumnya, sistem penilaian, serta tugas-tugas.

"Hehhhhhhhhhh...," aku bergumam pelan sampil menyelonjorkan posisi dudukku hingga hampir seperti tidur saja posisinya. "Masuk angin nih kayaknya, Ca," bisikku pada Ica. "Iya. Kelamaan kita di KJ tadi. mana cuma nyemil," sahutnya. Ica, sahabatku sejak zaman dahulu kala. Proporsi tubuhnya lumayan walaupun agak kurus. Rambut hitam melebihi bahu yang sudah di smoothing. tahu, kan, teknik pelurusan rambut itu. Sedikit poni di dahinya sampai menutupi alisnya yang tebal. itu tuh salah satu bagian yang bikin aku iri dari wajahnya si Ica. Alisnya. Tebal. haha..
Perempuan satu ini lebih tinggi daripada aku sekitar 7-10 cm. Kulitnya kemerah-merahan, dan kalau lagi ngomong suka belibet. Maksudnya, kalau ngomong tuh speednya cepet banget dan suka ada huruf atau bahkan kata yang hilang-hilang gitu. Hahahahaaa...Ica berkacamata. Aku juga. Tapi karena minusku hampir nggak ada, mana cuma di mata sebelah kanan, aku pun malas pakai kacamata. Tapi coba si Ica kamu suruh lepas kacamata. Nggak jalan dia ntar.

"Kapan selesainya sih, nih," bisikku lagi. Posisi duduk kami sudah serupa sekarang. "Woy!" sapa seorang gadis bertubuh padat berisi. Kulitnya putih, rambutnya hitam lurus panjang melebihi bahu. Aku ingat namanya Lala. Itu nama panggilannya, sih. Spontan kamipun menoleh. "Napa, La?" sahut Ica. "Nih Bapak ngomong apaan sih? Nggak jelas banget. Sudah pakai Mic masih gitu aja suaranya. hhh! Bikin tambah ngantuk!" Ujarnya dengan nada ketus.
Ups.. kaget juga nih dengernya. haha.. Dari logatnya bisa ketahuan bukan asli Surabaya nih anak. "Tauk, tuh. Biarin aja, lah. Aku juga ngantuk, mana badan nggak enak lagi. Eh, La, kamu nggak asli sini ya?," tanyaku. "Yup. Dari Jambi. Tapi SMA aku sudah di sini, lho." Kami pun bercakap-cakap sampai Bapak Dosen yang tercinta memutuskan untuk mengakhiri perkuliahan.
Syukurlah...

Keluar dari kelas kami pun beriringan bertiga. Masih malas pulang langsung ke rumah melihat kondisi jalanan depan kampus yang macet, kami pun memutuskan duduk-duduk di taman depan KJ yang kemudian hari kami sebut "Hotspot" Bukan apa-apa, tapi kalau siang tuh area panassss banget. Sedang asyik ngobrol bertiga, datanglah teman-teman dari kelompok tutorku.
Percakapan pun melebar, dan kami saling berbagi kisah. Seorang perempuan mungil lainnya datang menghampiri. Kulitnya cokelat, wajahnya manis. Rambutnya lurus hitam panjang tergerai. "Halo.. Gabung dooong.." logatnya nggak medok. Agak Jakarta'an gitu deh. Kami pun ngobrol makin seru. Gadis manis berkulit cokelat tadi namanya Tya. Ternyata dia asli Semarang. Tapi sudah lama di Surabaya. Wah, aku cukup kagum dengan Tya yang tidak terkontaminasi logat medok dengan dialek ala Kampus ini.

Kalau kalian berkunjung ke kampusku (dan kampus setipe ini lainnya), akan ada satu dialek khas yang ditemui. Karena kampusku mayoritas dihuni oleh mahasiswa WNI keturunan Tionghoa , jadi ada dialek Surabaya-Tionghoa yang kental banget. Sedikit banyak aku juga tertular. Wajar, lah, institusi kampusku ini ada dari Playgroup sampai Universitas, dan aku berada di dalam institut ini sejak TK sampai Kuliah.
Lebih lanjut kami ngobrol, rupanya si Tya asal sekolahnya nggak jauh-jauh dari asal SMAku. kami tetangga berhadap-hadapan. Hahahaaa.. Beberapa temannya adalah temanku dan Ica juga.
Tanpa terasa sudah sejam lebih kami ngobrol. Mulai dari masa-masa OSPEK, kegilaan kelompok masing-masing, sampai gosip-gosip nggak penting. Yang jelas, makin mengakrabkan kami.
Satu persatu teman mulai pulang. Sudah jam 7 malam nih. Kami juga harus pulang kayaknya. Serunya lagi, Aku, Ica, Lala, dan Tya buat janji untuk bertemu lagi besok pagi.

............................................................

Saturday, October 16, 2010

GAJ...

2.
Harus diakui kelas Pak Hari Prayudhi ini berhasil mencairkan suasana. Bagaimana tidak, jawaban yang muncul ada yang serius, ada yang ngocol, ada juga yang nggak nyambung. Sedikit banyak, kita bisa mulai mengerti, seperti apa sih karakter si A, karakter si B, dan seterusnya. Bahkan, salah satu kawan baikku di Kampus pun mengakui, kalau jawaban saya di tugas pertama di kelas pertama di masa kuliah ini adalah salah satu saat ia mulai menyadari seperti apa karakter saya. Haha..
Oke, kelas sudah buyar. Kami masih ada kelas lagi untuk hari itu. tapi masih nanti sore. Oke, bayangkan 3 jam kelas pertama dimulai pukul 7.30. Selesai pada 10.30. Kelas berikutnya? masih 16.00...

Mau ngapain ya 5 jam lebih gini? Aku dan sahabatku, Ica memutuskan untuk isi perut. Masuk kuliah pagi-pagi sukses meniadakan sarapan kami berdua. Kantin W, sebutan untuk kantin di gedung lama masih belum terlampau ramai. Mungkin karena hari senin ya. Eh, tapi seharusnya kan nggak ada hubungannya. hehe.. Oke lah..
Sudah sampai kantin ini, mau makan apa enaknya yah..
"Eh, pangsit di sini terkenal kan? Mana banyak, murah lagi," ujar Ica. "Hmm.." aku cuma manggut-manggut aja. Pada dasarnya nggak terlalu suka pangsit, sih. Tapi berhubung belum tahu banyak makanan di kantin ini, kami berdua pun memutuskan untuk memesan Pangsit mie.
harganya cuma Lima Ribu rupiah, dan bener banget, porsinya banyak! Enak pula. harga ini nggak berubah sampai kami lulus, lho. Porsinya? Kayaknya juga nggak berubah banget. Satu lagi yang aku sukai dari kedai pangsit di bagian paling pojok kantin ini adalah, mereka menyediakan banyak stok kerupuk udang! kerupuk favoritku! Hhahahahaaa...

Lagi asyik menikmati Mie pangsit yang murah, enak, banyak ini, tiba-tiba beberapa teman dari kelas pagi tadi menyapa kami, "Hey!" Sapa seorang gadis berkulit putih banget. bersih. rambutnya hitam panjang. Sedikit make-up terlihat sih. tadinya kupikir dia pakai bedak terlalu tebal, tapi menelusuri warna kulitnya yang memang putih banget dan rata, alias nggak belang-belang, aku menarik kembali anggapan burukku tadi. "Hoy," sapaku dan Ica. Maklum, kami dari Sekolah yang sama yang memang siswa-siswinya terkenal yahud-yahud! Hahaaa.. (Akan kujelaskan lebih lanjut tentang 'yahud' ini). "mau barena?," lanjutku. "Yup, boleh? Ini aku sama teman." ujar gadis putih bersih tadi dengan seorang gadis lainnya yang berpostur agak pendek dan berbadan sintal. Pipinya tembem, rambutnya nge-bob tanpa poni. Dahinya sedikit lebar.
Kami berbincang sejenak mengenai kelas barusan.
Ohya, sudah kusebutkan belum kalau di semester satu ini, kelas kami sudah ditentukan dari kampus berdasarkan urutan nomor NRP (Please, jangan tanya apa sih NRP itu. Aku nggak tahu lho sampai sekarang). Jadi, siapapun yang 1 kelas dengan kami di kelas pagi ini, pasti akan terus bersama hingga semester satu ini berakhir.

Tak lama kami pun berpisah. Aku dan Icha bertemu teman Ica lainnya yang juga 1 kelompok dengannya. Namanya Lala. Selain itu, kami juga bergabung dengan beberapa teman dari kelompok OSPEK ku dulu. Ada Meli, Amel, Meri, Jojo. Kami duduk bersama di suatu spot favorit mahasiswa, Kolam Jodoh. Well, anma resminya sih, Atrium gedung W. Tapi karena bentuknya yang seperti kolam, dan katanya sih, sering dibuat lokasi para mahasiswa janjian untuk bertemu, ngobrol dengan teman, dengan pacar, dan sejenisnya, jadi istilah "Kolam Jodoh" pun disematkan di Atrium gedung W ini.
Wah, kami ngobrol cukup seru menceriterakan pengalaman selama OSPEK di kelompok masing-masing. kelompok si Ica cukup gila, karena cewek-cewek yang di sana cukup ceriwis! Haha.. Sementara kelompokku, walaupun nggak seceriwis mereka, tapi kompak banget.
Aku sudah lupa sih, ngomong apa saja sepanjang 5 jam itu. Dan apa saja yang kulakukan. yang pasti, masuk ke kelas di jam 4 ini agak mengantukkan. Iya, lah, seharian ditrepa angin dari Kolam Jodoh (KJ), sambil bermalas-malasan lantas tiba-tiba disuruh konsenterasi lagi?

....................

Saturday, October 09, 2010

GA...

1.
"Hoaaahhhhmmmmmm..." Mulut kubuka lebar-lebar tanpa peduli siapapun yang lewat. Anak baru ini. Paling juga sama-sama nggak kenal. Efek datang kepagian nih. Maklum, Mahasiswa baru, hari pertama kuliah pula. Mau kasih kesan super oke dong ke dosen :)
Nah, ini dia ruangannya. Aku sampai di ruangan kelas dengan kode ruangan yang sesuai di lembar KARTU RENCANA STUDI. Judulnya sih "Kartu" tapi cuma kertas selembar print-printan gitu.
Kelas masih sepi. Banget. Nggak ada siapa-siapa. Masuk aja deh, pilih tempat agak yahud.
Cetak cetik cetuk, klik, trek... Jari-jemariku asyik memainkan handphone. Apalagi coba yang mau aku lakukan di ruangan kelas beberapa meter persegi yang dinginnya nggak karuan. Nggak berlebihan lho. Bayangkan saja, badan masih segar dan dingin efek mandi + keramas, eeh masuk ke ruangan yang nggak terlalu besar dengan 2 AC 1 peka yang nyala tak tanggung-tanggung kencangnya. Oh ya, aku lupa bilang, ini jam 7.15 WIB. Pagi hari. Oke? Sudah terasa belum dinginnya? Cobain aja deh.
Sambil kepala kurebahkan ke meja, jari-jariku masih aktif memainkan handphone.

Suara-suara mulai bermunculan. Sepertinya sudah ada yang bakalan masuk ke ruangan ini dan mengurangi dinginnya hawa kelas.
satu.. dua.. tiga.. empat.. perempuan semua. Nggak ada yang kukenal. Well, sudah pernah lihat sih waktu OSPEK, dan sempat bertegur sapa karena kami kan satu jurusan. Jurusan yang terkenal ramah lagi mulutnya. hahahahhaaaa....! :) Tetap ssaja, mereka bukan teman satu sekolahku. Tapi itu sama sekali bukan halangan untukku.
"Hai," aku mulai membuka percakapan. "Hey juga," sapa seorang gadis berkulit putih, bermata sipit, dengan rambut lurus tergerai sampai pinggang. Kalau kalian membayangkan deskripsi ini yahud banget, datang deh ke kampusku! Sepanjang mata memandang yah seperti ini nih sosok perempuan-perempuan di kampusku kebanyakan. Senyumnya ramah. "Dari kelompok mana OSPEKnya? Aku Stefanus," lanjutku. "Oh, Stefanus. Aku Kornelius." "Wah," sahutku "Kornelius berarti sama Ica, dong?" Ica, salah satu teman akrabku sejak kecil. Kami selalu berada di institusi yang sama. Sejak TK sampai Kuliah. Bahkan, di kampus ini, Jurusan kami sama, dan NRP kami berurutan. "Oh iya. Ica, Marissa kan yah? Yang waktu itu jarinya diperban?" Jawabnya. Aku hanya mengangguk. Haha, emang jari kelingking yang diperban itu pasti paling diingat orang. Pasalnya, beberapa waktu sebelum OSPEK, ada musibah dengan jarinya si Ica temanku itu (namanya Marissa, panggilannya Ica).
Mulai ramai, dan Ica pun datang. "Oy, Ve.. Sorry sorry, tadi masih ada urusan," ucapnya langsung begitu datang sambil menaruh pantat dan barang-barangnya di bangku sebelahku. "Yuk, gapapa. Tadi juga lagi ngobrol sama temanmu satu kelompok tuh," ucapku sambil menunjuk salah seorang teman yang kumaksud.

Kelas mulai ramai. Hampir penuh lebih tepatnya. Ehm.. sejauh mata memandang, kelas ini dominasi 95% perempuan lho. WOW. Panen raya nih para pria! haha...
Ups, datang tuh teman satu kelompokku. "Woy, Ndra!," kusapa dia. "Hwey, Ve.. sek-sek (Sebentar-sebentar)," diucapkan sambil sedikit membungkuk dan langkah cepat. Maklum, si Indra ini datang belakangan. Tapi, percuma deh, mau membungkuk kaya gimana juga pasti kelihatan. Lha tingginya aja 180 cm lebih!.
Seorang dosen pria masih relatif muda, usianya mungkin akhir 20 atau awal 30 deh prekdisiku memasuki lapangan upacara. eh, kelas. "Pagi Teman-Teman!" ucap sang dosen dengan suara yang renyah dan mantap pun membahana. "Pagi, Pak!!" Kompak kami sekelas menjawab sapaannya. "Perkenalkan," masih dengan suara renyah, mantap, dan membahana tadi. Tanpa microphone tentunya. "Nama saya Hari Prayudhi. Saya akan mengajar Pengantar Ilmu Komunikasi untuk kalian. Berhubung ini pertemuan pertama, dan kalian mahasiswa baru. Ada beberapa aturan main yang akan kita bicarakan. Oke?" Tampaknya dosen ini cukup asyik dan nggak egois.
Kelas cukup riuh utnuk membahas peraturan-peraturan kelas yang memang bisa fleksibel bergantung pada otoritas masing-masing dosen pengajar. Asyik juga.
Setelah beberapa aturan main dibuat, pelajaran pertama pun dimulai. "Oke," buka pak Hari. "Awalnya, nggak akan berat-berat. Coba ambil satu lembar kertas," kami pun langsung kompak mengambil kertas dari map, menyobek dari buku, minta teman, dan lain-lain. "Tuliskan nama dan NRP kalian di pojok kanan atas. Jangan lupa tanggal hari ini juga. Kemudian, paparkan, Mengapa kita perlu belajar Komunikasi?. Saya beri waktu 15 menit." Wow, beberapa detik awal kami disibukkan dengan meng-Copy-Paste NRP kami dari buku catatan ke lembaran kertas tersebut. Maklum, anak baru, pertama kali kuliah, NRP 7 digit gitu belum hafal luar kepala.

.....

G...

- Preambule -

photo doc. Eva Tarida
Pertemanan, jelas suatu hal yang penting. Relasi yang -biasanya- seru ini sangat dibutuhkan dalam hidup sehari-hari. Tak menutup kemungkinan ada banyak pertemanan yang berbeda-beda dimiliki oleh seseorang dalam hidup ini. Maksudnya, kalau lagi di Kampus, pasti kita punya "Gank" sendiri. Kalau di tempat kursus, misalnya, ada juga rekan 1-2 orang yang paling sering kita ajak diskusi, atau malah nebeng kendaraan :). Misalnya sudah kerja atau lagi jadi freelance, pasti ada juga kan rekan yang paling dekat.
Baik hanya dengan 1-2 orang saja atau sampai bergerombol, sama saja. Semua pasti menyenangkan. Biasanya, ada satu (atau lebih) kesamaan antar individu. Atau justru uniknya, banyaknya perbedaan yang membuat kami saling melengkapi, seperti kami ini.

Pernah melihat/memerhatikan segerombolan cewek ber-10 cekikian bareng tapi stiap individu berbeda banget (gaya, cara bicara, dll)? Itulah Kami.
Kisah selanjutnya akan saya tuturkan dengan gaya bercerita saya, dari sudut pandang saya, seobyektif mungkin. Tentu saja, nama disamarkan dong :)

Thursday, October 07, 2010

Kebiasaan

Habibie-Gus Dur (Benny Rachmadi). Photo : Doc Eva Tarida

 Ada satu kebiasaanku yang kadang membuat orang-orang sedikit sebal. Mau kusebutkan namanya apa, tapi aku sendiri juga nggak tahu tuh, mesti menyebut kebiasaan itu dengan kata-kata apa.
Jadi begini, saya nih hobi banget ngomong lompat-lompat maju-mundur. Errr... Gimana ya..
Misalnya nih, kita lagi ngobrolin soal A, gitu yang seruuu sampe 2 halaman naskah dialog, tiba-tiba ada bahasan yang bisa "menyempil" di antara bahasan A tersebut -sebut saja bahasan B- yang menjadi topik berikutnya.
Sampai kita ngobrol nggak kalah panjang dengan topik A yang pertama tadi. Lantas, pasti ada saat kita break gitu deh. Ya, Kan? Setengah menit gitu, pasti deh ada breaknya. nah, waktu break itu, bisa tiba-tiba aku nyeletuk suatu hal yang nggak ada kaitannya dengan bahasan B, atau ada kaitannya cuma kok agak nggak nyambung gitu. Saat lawan bicara kebingungan dan bertanya "He, emang apa hubungannya sama B?" Nah lho, langsung deh aku nyahut, "Lho, bukan maksudku itu untuk A" huehehheeee..
gitu deeh..
Mega-SBY. (Benny Rachmadi) Photo: Doc Eva Tarida
Apa yah sebutannya untuk kebiasaan begitu?

















Ada lagi. Kebiasaan yang katanya Sanguin banget, walaupun aku nggak terlalu peduli dengan hal pembedaan Sanguin - Kolerik - Melankolis -Phlegmatis itu.
Kenapa Sanguin dan Kolerik kuletakkan berurutan pertama kali? Karena hasil testku Sanguin-Kolerik. Katanya nggak doyan, kok yah ikutan test aja? Wajib tahu! ada di salah satu pertemuan di salah satu (eh, dua) mata kuliah waktu di Kampus. WEK!
Oke, Back To Topic.
Jadi, saya hobi banget mengulang cerita yang sama. Berulang kali. Tanpa merasa bersalah sedikitpun (nggak wajib deh) kalau cerita itu sudah berkali-kali saya utarakan pada orang yang sama. Nah Lho.
Kalau cuma begitu sih mungkin nggak masalah. Yang ketiban sial bisa aja langsung nyahut "He! Sudah tahuuu!! Kamu udah cerita 5 kali!!" hahahaa..
The problem is, sebaliknya, saya selalu merasa sudah pernah menyeriterakan suatu hal, padahal belum pernah saya ungkapkan sekali pun. Nah lhoo.. hehheeee...


Nah, kalau di akhir buku cerita bergambar karya-karya H.C. Andersen dulu tuh pasti ada "Moral" nya.
Lantas, apa Moral dari postingan saya yang lebih ke arah ngobrol ngalur-ngidul begini?
Ehm... Yah kayaknya nggak ada deh. Cuma sekadar penyadaran diri aja, gitu.
Anyway, this is my own blog. I have my own right to write down anything here* haha

*Terms and condition apply
 
ps: ilustrasi gambar 4 presiden yang saya gunakan ini adalah foto saat saya mengunjungi pameran mengenai buku-buku Benny & Mice. Kedua gambar ini adalah gambar promo untuk buku karya Benny Rachmadi "Dari Presiden ke Presiden"



Tuesday, October 05, 2010

Jokes :)

Jokes – SMS Alay

Alkisah, ada seorang alay yang sms dengan seorang normal
A = Alluw kag! Leh knal? Ap kBrx?
B = Wa’alaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh…Dengan hormat, sampainya pesan ini, saya akan memberitahukan bahwa kabar saya baik-baik saja…. Maaf beribu-ribu maaf, Ini gerangan nomer siapa ya? Kok acap kali sms nomernya ga ke save ya? (bales sepanjang mungkin)
A = Owh ea muuph lupa ng@s1h s4L4m,,,, Ini EnDoet LuThuwna EmbeM C@ianK Cmu@na. Inged gag kag? Eh, kug blzna pjg bgd ch? Gi ng4ps?
B = Yaiyalah panjang…. Lagian ga dibayar perhurup inih! Gw lagi mabok nerjemahin kata2 lo nih. Keypadnya ilang2an ya? Oh elo…. Eh, siapa tadi? Tembem semua? Perasaan temen-temen gw kalopun ada yang tembem paling sebagian dipipi doang. Ga sampe seluruh badan dah.

A = Huft …Plz dund…bkn t3mb3m cmu4, tp ‘emb3m c@iank cMuana’. W AD klaz xmp lw dlu. J4h@d bgd d3ch……fufufuuu :’(
B = Yeeee mana gw apal. Adek kelas gw kan ada banyak. Bayangin misal sekelas ada 25 murid cewe. Dikali 9 kelas. Nah, itung ndiri dah tuh ada berapa! Itu belom dari sekolah2 laen. Mereka kan gw anggep adek kelas gw semua walopun mereka ga nganggep gw. Coba? Masa iya gw apalin atu2. Lu kira gw petugas sensus! Eh itu sebenernya huruf ‘a’ mau lo ganti apasih? Jadi angka 4 apa a keong (@)? Satu aja ribet apalagi dua gw bacanya. Plin-plan lo ah
A = Ea mu’uph kag…. Abzn udh kbi@s44n kag. Jng mrh dund… hix… hix… Oh ea y.. Kn ad bnyk ea… muv dh muv.. Eh kag, w inged loh qt dlu prNh kut xkul PeNcak sLt bReng jG.
B= Jorok lo ah
A = Pencak SILAT kak!!!
B = Ooohhh…. Nah itu bisa nulis bener
A = Tp w kluwar paz 5aBuk quNink. Gag kwt. Uji4nna bRad bGd
B = Gw ga pernah ikut pencak silat. Gw ikut cheers. Yang dipaling atas formasi piramida kan gw. Lagi pula kalo gw ikut pencak silat, sabuknya ga muat.
A = Iyh yng bn3r kag? Bc4nd@ aj dh wkwkwkwkwkwkwkwkwk!!!
B = Etdah lo ketawanya serem amat kayak burung gagak.
A = Eh kag BTW n0m3r hpx kog ckep amad ch? Ky orangx
B = Nama gw bukan betawi.
A = Mksd w ‘by the way’
B = Kenapa emang JALANnya?
A = OMONG-OMONG!!!!
B = Oh… ga tau nih.. Beruntung aja dapet nomer bgini
A = Dpt dri m4n4 kag?
B = Hadiah es orson. Penting amat
A = Kag kuq fesbukx lum d k0nfr1m?
B = Confirm! Bukan Kon-frim! Oh yang foto profilnya dari atas sambil manyun2 itu lo ya? Gw kira fanpage-nya Suneo. Belom-belom. Ntar deh kalo angel foto lo udah bener. Eh, unyeng2 lo ada 5 ya? Ampe keliatan. Banyak amat. Situ pake ekstensen unyeng2?
A = Iyh ka2g bC@nd4 aj@ dh. 1tukan age’ ngetrend kag futu dri @ta5. Mak1n gaG kli4t@n mukax, makin keyenz!
B = Yaiyalah. Gimana mau keren kalo muka lo keliatan. Coba dong sekali-sekali foto profilnya diganti pake fotokopi. Burem, perkecil, bolak-balik.gitu.
A = Mangx uj14n!
B = Biar ga keliatan muke lu. Katanya makin ga keliatan makin kerennn...
Gw yakin asli lo ga sebagus di foto kan? Nih udah gw confirm. Eh, itu
foto2 lo banyak banget yang jari tangan angka satu dimulut. Lagi ngelonin
orok sapa lo? ya ampun.. Lo ga juling foto dari atas semua?
A = Gag. Udh b1aza k0g. Eh, kag mang gi onlen ea? Onlen d kul ap dihumz?
B = Eh kalo bahasa alaynya onlen di WC SPBUÃ apaan? Salah semua tuh
option lo
A = Ih... kakak joyokkkk...
B = Kadir ga diajak?
A = Itu Doyok kaaaggg.... Yah, w lgi gaG onlen niyh kag. Cb klo qt sm onlen, kn bs chat b4r3ng
B = Kita? Lo aja kali ama kawan2 lo. Lagian yang minta lo biar onlen sapeh?!
A = Hix..Hix...Jahad :( Kag kug lum bubu siyh? Kn udh mlm. Mang lum ngantug ea?
B = Gw ga pernah ikut MLM deh
A = Malem Kag maksudx....
B = Udah gede ini. Lagian sembari ngelembur ngerjain tugas nih.
A= Cemangadh!
B = Hdagnamec
A = Paan tuch Kag???
B = Tulisan lo gw balik. Bingung gw nanggepin bahasa lo. Eh tulisan lo bisa di normalin dikit ga? Sedikiiit aja demi gw
A = Oh ea deh kag..
B = Eh, ko gw baca status-status lo semuanya ngambil dari lirik-lirik lagu ya??? Keabisan ide lo? Mana udah di Like-in sendiri, trus ga ada yang comment pula.
A = Eaaa... Abisan w suka bgd kag sm lgu it. Co cweet bgd dech. It jga da lgu knangan sm mantan w dlu
B = (Emang gw pikirin).
A = Ohiya kag! Bsk lusa jm 9 pgi d salah satu stasiun tv nntn w ya!
B = Itu kan acara live musik itu kan?! Yang penontonnya satu panggung sama artis/bandnya. Trus sambil nari2 kompak banget dibelakangnya. Lo jadi artis toh sekarang? Grup band lo apa namanya? Salut gw. Pasti lo jadi vokalisnya ya? Apa lo soloist?
A = Bukan kag, gw jadi penontonx.
B = Huh?!!!!!!! (Keselek)
A = Ea, yng pnting msk tv kag! Gw ma rombongan udh nyiapin tarianx lho kag. Biar kompak nnti narix. Nama tarianx Ngucek-Jemur- Ngucek-Jemur. Tau dund kag ky gmana. Gag ngaruh deh mw bandx apa aliranx apa.
B = Trus kalo bandnya metal gimana??? Masa lo mau tetep joget Ngucek-Jemur?
A = Ya gag ap kag. Lgan band metal mah gag mgkin d hadirin kag. Kyk ga tau aja kag..
B = Yaudah deh, selamat joget ya. Kakak mo tidur dulu. Oia, besok lusa, pagi2 kakak ga bisa nonton situ joget Ngucek-Jemur. Soalnya kakak sibuk mau bikin anyam2an sedotan. Babay!
A = Bye... Met bubu kag. Eh kag, ntr jm2 bolax pa?
B = Hah?! Lo suka nonton bola pagi2 juga?
A = Yaelah bgadang nntn bola wajar x kag
B = Lo cowo apa cewe sih?!
A = Cow. Mang np?
B = Lah itu foto2 difesbuk?!
A = Itu mantan w kag. Fto w d album Juzt Me
B = ............ ......... ......... .......
A = Kag?
B = Eh iya sori. Udahan dulu ya. Gw baru ngeliat UFO nih. Bye!

taken from my friend's Page, Rendy- 
(disempurnakan 25/11/11)

Friday, September 24, 2010

It’s All About My Dream!

                Mimpi atau cita-cita pada anak-anak berkaitan erat dengan minat mereka. Jarang sekali anak-anak yang masih sangat kecil (belum lulus Sekolah dasar) sudah memiliki cita-cita yang pasti dan settle. Biasanya, yang mereka jawab saat ditanya “apa cita-cita kamu?” adalah profesi yang stereotype, dalam hal dipengaruhi lingkungannya.
The Sky is the Limit. Photo Doc. Eva Tarida
                Anak-anak cenderung mengenali nama profesi dari lingkungannya, dan yang terdekat adalah orangtuanya. Yang paling mudah mereka ingat adalah pekerjaan kedua orangtuanya. Anak belum mengerti betul detil-detil mengenai sebuah profesi. Maka, saat ia menjawab “pilot!”, ia belum mengerti betul seperti apa tugas-tugas seorang pilot, apa saja kualifikasinya, dan apa saja resikonya. Cobalah bertanya mengapa mereka mau menjadi pilot, mungkin jawabannya seperti ini : “Enak, bisa naik pesawat terus,” atau “Asyik, bisa keliling-keliling.” Karena sekali lagi, mimpi semasa kanak-kanak dipengaruhi oleh minat, jangan kaget kalau anak akan merubah cita-citanya beberapa kali.

Pentingnya melakukan Dream Setting / Career Planning
                Sangat penting bagi orangtua untuk membiasakan diri mengenalkan berbagai macam profesi pada anak sedari dini. Jangan merasa anak masih terlalu kecil, atau membiarkan anak mengetahuinya sendiri. Yang terpenting sebagai orangtua adalah tidak memaksakan kehendak, idealisme, dan ambisinya sendiri pada anak.
Photo doc. Eva Tarida
               Sedari anak masih kecil, biarkan anak mengenali potensi dan minatnya sebanyak-banyaknya. Hal ini sangat penting agar anak memiliki arahan dalam hidup dan mengerti bahwa hidup itu tidak mengalir begitu saja seperti air. Karena, bila anak berjalan begitu saja tanpa arahan akan tidak efektif dan kurang motivasi. Dengan adanya arahan tertentu, anak akan termotivasi dan mempunyai semangat tersendiri untuk mencapai yang diinginkan.

Saat yang Ideal Untuk Mulai Membicarakannya
                Di indonesia, masih cukup terlambat seorang anak menetukan cita-citanya. Coba saja kita bertanya pada anak yang sudah SMA, belum tentu ia bisa menjawab apa cita-citanya. Jarang sekali seorang anak benar-benar tahu mau jadi apa dia nantinya, jurusan apa yang akan ia ambil selama kuliah, dan sebagainya. Fenomenanya adalah, anak mengikuti kehendak orangtua, memilih berdasarkan ’keputusan bersama’ alias ikut-ikut teman, bahkan hanya mengikuti tren yang ada saat itu.
                Lebih awal kita mengomunikasikan hal ini pada anak, maka akn lebih baik. Mulailah membiasakannya saat anak mencapai usia ia bisa berpikir dan menetukan sesuatu sendiri, seperti di usia 4-5 tahun. Tetap ingat, jangan memaksakan kehendak, atau menanamkan idealisme dan ambisi Anda pada anak. Kenali potensi anak secara obyektif. Bisa dengan cara membiarkan anak mencoba beberapa hal, atau memperkenalkan berbagai bidang pekerjaan dan hobi. Setelah itu, orangtua dapat melihat, di bidang apa anak terlihat paling cepat bisa dan paling tertarik.
                Berikan gambaran sederhana mengenai profesi dari keseharian kita. Misalnya, saat Anda dan anak pergi ke dokter, perkenalkanlah pekerjaan tersebut pada anak. Berceritalah. Ada beberapa macam jenis dokter, seperti dokter anak, dan dokter gigi.kemudian, katakan juga, ”Kalau mau jadi dokter, adik harus tahan lihat darah dan luka, lho. Selain itu, adik juga jarang liburan. Soalnya, orang sakit kan nggaklibur, Dik.” Atau profesi yang jarang diminati anak seperti hakim, pengacara, dan jaksa. Saat Anda dan anak sedang melihat acara di televisi yang memperlihatkan tayangan pengadilan, mulailah bercerita sedikit, seperti apa itu pengadilan. Siapa saja yang ada di sana.  Beritahukan pula syarat-syaratnya, ”Kalau Adik mau jadi hakim atau pengacara, adik harus punya daya hafal yang kuat. Adik juga perlu punya kemampuan ngomong yang bagus dan banyak logikanya.” Jangan lupa untuk juga memperkenalkan profesi orangtua sendiri. Ini akan lebih mudah, karena anak dapat melihat langsung bagaimana orangtuanya bekerja.
                Sejak anak berusia 3 tahun, ajak mereka mengenali profesi dengan bermain-main di lokasi bermain yang menyediakan wahana untuk simulasi. Dengan adanya wahana simulasi untuk belajar tersebut, anak dapat dengan sendirinya mengerti berbagai macam profesi. Perkenalkan berbagai bidang pada anak, dan lihat di bidang mana anak cepat belajar dan nyaman di sana.
                Ingatlah, bahwa ini semua merupakan sebuah proses, dengan tujuan pada saat anak akan memilih suatu profesi nantinya, sesuai dengan minat dan bakatnya, dan tidak asal dalam memilih. 
Reach for the Sky. Photo Doc. Eva Tarida
                 Pada saat anak sudah menentukan apa yang diminatinya, atau profesi apa yang dipilihnya untuk dijalani, orangtua harus membimbing anak untuk dapat fleksibel. Dalam artian, bisa saja apa yang diinginkan anak itu tidak terpenuhi. Misalnya saja, anak ingin menjadi pilot. Tetap dukung anak Anda, sambil bicarakan pada mereka, ”Bagaimana kalau Tuhan tidak mengizinkan Adik jadi pilot?. Mama dan papa setuju saja, dan kita semua akan berusaha bersama agar Adik bisa jadi pilot. Tapi, belum tentu itu yang terbaik untuk Adik. Kalau ternyata suatu hari nanti, Adik tidak bisa jadi pilot, berarti, ada profesi lain yang lebih baik yang sudah direncanakan untuk Adik.” jadi, jangan membiarkan anak juga hanya terpaku kaku pada satu saja. Usahakan ada alternativ lain. Namun tentu saja, tetap sesuai dengan keinginan anak, dan tidak asal pilih. (eva tarida)
Narasumber : Dra. Lisa Narwastu

*posting ini merupakan artikel saya yang pernah dimuat di Majalah Toddie