Saturday, October 30, 2010

Fairytale in Life

Once upon a time, lived on a down down forest, a very beautiful girl was picking up the grasses. Those weren't just grasses, but medical grasses. She had to chose which one is useful which one is not. She need those grasses for ingredients to make a cup of medicine. There was her old poor grandmother laid handicapped in their bed. Not a bed actually, just a blade of board covered with a very ugly thin blanket.
.
.
.
For short, the girl could save a king's beloved son because she had a lot of knowledge regarding traditional medicine using natural material. The king loved her then, and make her marry his beloved saved son.
And they lived happily ever after.....

------------ The End -----------

A very typical lie of living was created on our brain far away when we are still kiddos. The fairytale always provide us a very lovely pattern. A hard beginning which will been paid at the end. No matter how hard your life is, you'll find the knight on your dream. Whoever he is, wherever he came from. And all the villains would disappear and or be good somehow.
But did the "Happily Ever After" really exist? Am not sure. There's a live after marriage which never ready to be explained.
I don't know either why the author never had any story about that.
Or perhaps, the fairytales are made to be just dream?

Friday, October 29, 2010

Boredom

What is wrong with a routine? Nothing but the boredom.

Boredom
The feeling of Okay, so I will enter the room, put all my carrier, and turn on that and this, and I'll start doing A, B, and C..
And that list will keep running continuously for 5 days a week.
For what or whose sake we doing that such boring routine? No one sake but ourselves, and for none but our own needs.

"Unless a man has been taught what to do with success after getting it, the achievement of it must inevitably leave him a prey to boredom.”  ~Bertrand Russell


Monday, October 25, 2010

Hotel California - The Eagles

 Salah satu lagu dengan sarat makna. Bukan sekedar makna dari lagu itu, tapi juga history yang ada melatarbelakangi lagu ini. Really, it was a real wrap, The Eagles!!

image by : yahoo.image


 HOTEL CALIFORNIA
On a dark desert highway, cool wind in my hair
Warm smell of colitas, rising up through the air
Up ahead in the distance, I saw a shimmering light
My head grew heavy and my sight grew dim
I had to stop for the night
There she stood in the doorway;
I heard the mission bell
And I was thinking to myself,
’this could be heaven or this could be hell’
Then she lit up a candle and she showed me the way
There were voices down the corridor,
I thought I heard them say...

Welcome to the hotel california
Such a lovely place
Such a lovely face
Plenty of room at the hotel california
Any time of year, you can find it here

Her mind is tiffany-twisted, she got the mercedes bends
She got a lot of pretty, pretty boys, that she calls friends
How they dance in the courtyard, sweet summer sweat.
Some dance to remember, some dance to forget

So I called up the captain,
’please bring me my wine’
He said, ’we haven’t had that spirit here since nineteen sixty nine’
And still those voices are calling from far away,
Wake you up in the middle of the night
Just to hear them say...

Welcome to the hotel california
Such a lovely place
Such a lovely face
They livin’ it up at the hotel california
What a nice surprise, bring your alibis

Mirrors on the ceiling,
The pink champagne on ice
And she said ’we are all just prisoners here, of our own device’
And in the master’s chambers,
They gathered for the feast
They stab it with their steely knives,
But they just can’t kill the beast

Last thing I remember, I was
Running for the door
I had to find the passage back
To the place I was before
’relax,’ said the night man,
We are programmed to receive.
You can checkout any time you like,
But you can never leave!
--------------------------------------------------------------------------------------
 curious to hear this song. You may download it here

Sunday, October 24, 2010

My Work

Few posts ago.. hahaa.... If on a fairy tale, you'll find A long time ago.. :)okay, I've made two posts contain with my writing while I was on internship. But guess, there was a problem with the link, so I consider to put a link again in this post :)
 
you may open this link here : CLICK HERE
and also this ONE and this ONE. The admin had my name wrong written, so it couldn't be listed at the previous link.
And this ONE and this ONE . The admin had not completely my full name written. But it's okay for me.
You'll find the lists of my writing while I was on internship :)
How I miss those Journalism activities...

Saturday, October 23, 2010

The Best Man of My Life


No special purpose of writing this. It's just, last night, when I came home very late, there was my father, half asleep, waited for me on his favorite couch while the TV still on.
He got a bit upset when I'm not reach home quickly, but he never not wait for me to reach home and greeting him "Hay, Dad!".

“When a man has done his best, has given his all, and in the process supplied the needs of his family and his society, that man has made a habit of succeeding.”-Mack R. Douglas


Dad

My father used to play with my brother and me in the yard.  Mother would come out and say, "You're tearing up the grass."  "We're not raising grass," Dad would reply.  "We're raising boys."  ~Harmon Killebrew


Daddy and Me

Dad and Mom

“It takes a family to raise a child.” -Bob Dole



The Happy Blessed Family



“He didn't tell me how to live; he lived, and let me watch him do it.”
-Clarence Budington Kelland
 

Friday, October 22, 2010

Knows Well

Sedang melamun saja, tiba-tiba aku teringat suatu cerita yang menggelikan, namun menjadi pelajaran.
Pernah mendengar istilah "Para pelaku mengenal korbannya dengan baik"?
Hal ini tidak berarti pelaku adalah orang yang dekat dengan korbannya, atau bahkan kerabatnya. Namun, para pelaku tersebut dapat mengenali 'korban'nya dengan baik. Kasus ini bukan terjadi padaku, tapi aku cukup mengikutinya.

Jadi begini...
Seorang rekan suatu kali pernah mendapatkan pesan pribadi via salah satu jejaring sosial. Dalam pesan tersebut disebutkan bahwa pengirim pesan tertarik dengan paras rekanku yang menurutnya cantik dan menarik hati.Ia pun memuai dengan mengajukan tawaran klise "dapatkah kita menjadi teman baik?" yang dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan klasik ala chatting MIRC zaman dulu.
Secara normal sih, di umur yang cukup matang, seharusnya rekanku ini nggak akan termakan tipuan kuno begini. Tapi, apa yang terjadi? Malahan dia nampak senang dan berbunga-bunga dengan kalimat-kalimat manis yang keluar dari pengirim pesan terebut.
Tak pakai pikir panjang, aku pun bilang "Hati-hati lho, Mbak," namun, ada jurus pamungkas dari rekanku, "Lho, tapi beneran kok. Fotonya asli-asli semua, bahkan yang di list kerabatnya juga ada semua. Dia dulunya tentara." Nah lho, berhubung aku juga nggak lihat langsung, aku pun nggak banyak komentar.

Esoknya, kupikir sudah selesai deh masalah beginian aja. Eh, rupanya tebakanku salah kali ini. Pagi-pagi rekanku angsung minta tolong aku mengartikan pesan dari pengirim pesan yang sama itu. Lah.. masih lanjut to rupanya. Ohya, si pengirim pesan itu ngakunya sih orang Amerika campuran Spanyol gitu. Oke deh.. Aku pun membaca ketikan huruf yang berjajar rapi di kertas yang dibawa rekanku tadi. Oh my, this crazy stranger stated that he wants to marry my friend! Gee!! Could you imagine it?
Langsung deh aku bilang "haduh, mbak, ini nggombal ga jelas. Udah ga usah ditanggapin lagi. Biarin aja. Hati-hati lho nanti ada apa-apa.." Yang langsung ditanggapi dengan sedikit kebingungan oleh rekanku tadi, "Lho, iya. Trus ini gimana? Kubales gimana?" agak geli juga sih aku denger rekanku yang satu ini. "Ya sudah, Mba, gini aja, bilang aja kalau nggak bisa lebih dari sekadar teman. Soalnya Mba udah nikah. Gitu aja. Mendingan tapi jangan kontak apa-apa lagi deh..." Sahutku yang waktu itu langsung dapat persetujuan darinya."Soalnya, aku seumur hidup nggak pernah dapet surat cinta yang romantis ini lho. Seneng aja gitu..." Jelasnya. Wah.. repot deh kalo udah gini.
Selang waktu dua hari, aku sudah nggak dengar lagi rekanku ngomongin tentang itu. Tiba-tiba, waktu makan siang, rekanku tanya lagi arti dari beberapa kalimat dalam bahasa Inggris. Selesai kuartikan, mendadak curiga nih. "Lho, ini yang kapan hari?" dia cuma mengangguk sambil senyum-senyum. "Lho.. masih lanjut, to? Wes.. hati-hati aja yah, Mba.."

Belajar dari pengalaman rekanku ini, yang kayaknya masih berlanjut, aku cuma bisa lebih waspada saja, dan lebih logis lagi, deh.
Kayaknya, si pengirim pesan, apapun motifnya, sudah 'mengenal' rekanku ini entah bagaimana caranya. Dia bisa mengerti bagaimana membawa rekanku ke awang-awang dan melanjutkan kontak nggak jelas ini.
Nggak heran deh banyak yang tertipu via dunia maya. Dulu kupikir-pikir kok ya bisa ya ketipu  dengan mudah gitu. Nggak kenal sama sekali, eeh bisaaa aja dibawa lari. Tapi sekarang sudah ada yang mulai "terbawa" nih di dekatku..
Hati-hati, karena sang pelaku sudah mengerti bagaimana menggiring Anda!

Thursday, October 21, 2010

GAJA...

3.
Kelas Bahasa Indonesia di sore hari. Bapak dosennya berperawakan gemuk dan tidak terlalu tinggi. Paling-paling yaaah beda-beda tipis lah sama aku tinggi badannya. Hahahaaaa... Rambutnya tipis, hampir botak, tapi kumisnya cukup tebal, lho.
Suara beliau tidak terlalu keras, sehingga alat bantu bernama microphone pun digunakan. Walhasil, suaranya jadi keras sekali memenuhi seluruh ruangan. Berhubung ini juga pertemuan pertama, Pak dosen tidak berceramah terlalu panjang-lebar. Sedikit aturan main yang hampir sama deh dengan kelas sebelumnya, sistem penilaian, serta tugas-tugas.

"Hehhhhhhhhhh...," aku bergumam pelan sampil menyelonjorkan posisi dudukku hingga hampir seperti tidur saja posisinya. "Masuk angin nih kayaknya, Ca," bisikku pada Ica. "Iya. Kelamaan kita di KJ tadi. mana cuma nyemil," sahutnya. Ica, sahabatku sejak zaman dahulu kala. Proporsi tubuhnya lumayan walaupun agak kurus. Rambut hitam melebihi bahu yang sudah di smoothing. tahu, kan, teknik pelurusan rambut itu. Sedikit poni di dahinya sampai menutupi alisnya yang tebal. itu tuh salah satu bagian yang bikin aku iri dari wajahnya si Ica. Alisnya. Tebal. haha..
Perempuan satu ini lebih tinggi daripada aku sekitar 7-10 cm. Kulitnya kemerah-merahan, dan kalau lagi ngomong suka belibet. Maksudnya, kalau ngomong tuh speednya cepet banget dan suka ada huruf atau bahkan kata yang hilang-hilang gitu. Hahahahaaa...Ica berkacamata. Aku juga. Tapi karena minusku hampir nggak ada, mana cuma di mata sebelah kanan, aku pun malas pakai kacamata. Tapi coba si Ica kamu suruh lepas kacamata. Nggak jalan dia ntar.

"Kapan selesainya sih, nih," bisikku lagi. Posisi duduk kami sudah serupa sekarang. "Woy!" sapa seorang gadis bertubuh padat berisi. Kulitnya putih, rambutnya hitam lurus panjang melebihi bahu. Aku ingat namanya Lala. Itu nama panggilannya, sih. Spontan kamipun menoleh. "Napa, La?" sahut Ica. "Nih Bapak ngomong apaan sih? Nggak jelas banget. Sudah pakai Mic masih gitu aja suaranya. hhh! Bikin tambah ngantuk!" Ujarnya dengan nada ketus.
Ups.. kaget juga nih dengernya. haha.. Dari logatnya bisa ketahuan bukan asli Surabaya nih anak. "Tauk, tuh. Biarin aja, lah. Aku juga ngantuk, mana badan nggak enak lagi. Eh, La, kamu nggak asli sini ya?," tanyaku. "Yup. Dari Jambi. Tapi SMA aku sudah di sini, lho." Kami pun bercakap-cakap sampai Bapak Dosen yang tercinta memutuskan untuk mengakhiri perkuliahan.
Syukurlah...

Keluar dari kelas kami pun beriringan bertiga. Masih malas pulang langsung ke rumah melihat kondisi jalanan depan kampus yang macet, kami pun memutuskan duduk-duduk di taman depan KJ yang kemudian hari kami sebut "Hotspot" Bukan apa-apa, tapi kalau siang tuh area panassss banget. Sedang asyik ngobrol bertiga, datanglah teman-teman dari kelompok tutorku.
Percakapan pun melebar, dan kami saling berbagi kisah. Seorang perempuan mungil lainnya datang menghampiri. Kulitnya cokelat, wajahnya manis. Rambutnya lurus hitam panjang tergerai. "Halo.. Gabung dooong.." logatnya nggak medok. Agak Jakarta'an gitu deh. Kami pun ngobrol makin seru. Gadis manis berkulit cokelat tadi namanya Tya. Ternyata dia asli Semarang. Tapi sudah lama di Surabaya. Wah, aku cukup kagum dengan Tya yang tidak terkontaminasi logat medok dengan dialek ala Kampus ini.

Kalau kalian berkunjung ke kampusku (dan kampus setipe ini lainnya), akan ada satu dialek khas yang ditemui. Karena kampusku mayoritas dihuni oleh mahasiswa WNI keturunan Tionghoa , jadi ada dialek Surabaya-Tionghoa yang kental banget. Sedikit banyak aku juga tertular. Wajar, lah, institusi kampusku ini ada dari Playgroup sampai Universitas, dan aku berada di dalam institut ini sejak TK sampai Kuliah.
Lebih lanjut kami ngobrol, rupanya si Tya asal sekolahnya nggak jauh-jauh dari asal SMAku. kami tetangga berhadap-hadapan. Hahahaaa.. Beberapa temannya adalah temanku dan Ica juga.
Tanpa terasa sudah sejam lebih kami ngobrol. Mulai dari masa-masa OSPEK, kegilaan kelompok masing-masing, sampai gosip-gosip nggak penting. Yang jelas, makin mengakrabkan kami.
Satu persatu teman mulai pulang. Sudah jam 7 malam nih. Kami juga harus pulang kayaknya. Serunya lagi, Aku, Ica, Lala, dan Tya buat janji untuk bertemu lagi besok pagi.

............................................................

Saturday, October 16, 2010

GAJ...

2.
Harus diakui kelas Pak Hari Prayudhi ini berhasil mencairkan suasana. Bagaimana tidak, jawaban yang muncul ada yang serius, ada yang ngocol, ada juga yang nggak nyambung. Sedikit banyak, kita bisa mulai mengerti, seperti apa sih karakter si A, karakter si B, dan seterusnya. Bahkan, salah satu kawan baikku di Kampus pun mengakui, kalau jawaban saya di tugas pertama di kelas pertama di masa kuliah ini adalah salah satu saat ia mulai menyadari seperti apa karakter saya. Haha..
Oke, kelas sudah buyar. Kami masih ada kelas lagi untuk hari itu. tapi masih nanti sore. Oke, bayangkan 3 jam kelas pertama dimulai pukul 7.30. Selesai pada 10.30. Kelas berikutnya? masih 16.00...

Mau ngapain ya 5 jam lebih gini? Aku dan sahabatku, Ica memutuskan untuk isi perut. Masuk kuliah pagi-pagi sukses meniadakan sarapan kami berdua. Kantin W, sebutan untuk kantin di gedung lama masih belum terlampau ramai. Mungkin karena hari senin ya. Eh, tapi seharusnya kan nggak ada hubungannya. hehe.. Oke lah..
Sudah sampai kantin ini, mau makan apa enaknya yah..
"Eh, pangsit di sini terkenal kan? Mana banyak, murah lagi," ujar Ica. "Hmm.." aku cuma manggut-manggut aja. Pada dasarnya nggak terlalu suka pangsit, sih. Tapi berhubung belum tahu banyak makanan di kantin ini, kami berdua pun memutuskan untuk memesan Pangsit mie.
harganya cuma Lima Ribu rupiah, dan bener banget, porsinya banyak! Enak pula. harga ini nggak berubah sampai kami lulus, lho. Porsinya? Kayaknya juga nggak berubah banget. Satu lagi yang aku sukai dari kedai pangsit di bagian paling pojok kantin ini adalah, mereka menyediakan banyak stok kerupuk udang! kerupuk favoritku! Hhahahahaaa...

Lagi asyik menikmati Mie pangsit yang murah, enak, banyak ini, tiba-tiba beberapa teman dari kelas pagi tadi menyapa kami, "Hey!" Sapa seorang gadis berkulit putih banget. bersih. rambutnya hitam panjang. Sedikit make-up terlihat sih. tadinya kupikir dia pakai bedak terlalu tebal, tapi menelusuri warna kulitnya yang memang putih banget dan rata, alias nggak belang-belang, aku menarik kembali anggapan burukku tadi. "Hoy," sapaku dan Ica. Maklum, kami dari Sekolah yang sama yang memang siswa-siswinya terkenal yahud-yahud! Hahaaa.. (Akan kujelaskan lebih lanjut tentang 'yahud' ini). "mau barena?," lanjutku. "Yup, boleh? Ini aku sama teman." ujar gadis putih bersih tadi dengan seorang gadis lainnya yang berpostur agak pendek dan berbadan sintal. Pipinya tembem, rambutnya nge-bob tanpa poni. Dahinya sedikit lebar.
Kami berbincang sejenak mengenai kelas barusan.
Ohya, sudah kusebutkan belum kalau di semester satu ini, kelas kami sudah ditentukan dari kampus berdasarkan urutan nomor NRP (Please, jangan tanya apa sih NRP itu. Aku nggak tahu lho sampai sekarang). Jadi, siapapun yang 1 kelas dengan kami di kelas pagi ini, pasti akan terus bersama hingga semester satu ini berakhir.

Tak lama kami pun berpisah. Aku dan Icha bertemu teman Ica lainnya yang juga 1 kelompok dengannya. Namanya Lala. Selain itu, kami juga bergabung dengan beberapa teman dari kelompok OSPEK ku dulu. Ada Meli, Amel, Meri, Jojo. Kami duduk bersama di suatu spot favorit mahasiswa, Kolam Jodoh. Well, anma resminya sih, Atrium gedung W. Tapi karena bentuknya yang seperti kolam, dan katanya sih, sering dibuat lokasi para mahasiswa janjian untuk bertemu, ngobrol dengan teman, dengan pacar, dan sejenisnya, jadi istilah "Kolam Jodoh" pun disematkan di Atrium gedung W ini.
Wah, kami ngobrol cukup seru menceriterakan pengalaman selama OSPEK di kelompok masing-masing. kelompok si Ica cukup gila, karena cewek-cewek yang di sana cukup ceriwis! Haha.. Sementara kelompokku, walaupun nggak seceriwis mereka, tapi kompak banget.
Aku sudah lupa sih, ngomong apa saja sepanjang 5 jam itu. Dan apa saja yang kulakukan. yang pasti, masuk ke kelas di jam 4 ini agak mengantukkan. Iya, lah, seharian ditrepa angin dari Kolam Jodoh (KJ), sambil bermalas-malasan lantas tiba-tiba disuruh konsenterasi lagi?

....................

Saturday, October 09, 2010

GA...

1.
"Hoaaahhhhmmmmmm..." Mulut kubuka lebar-lebar tanpa peduli siapapun yang lewat. Anak baru ini. Paling juga sama-sama nggak kenal. Efek datang kepagian nih. Maklum, Mahasiswa baru, hari pertama kuliah pula. Mau kasih kesan super oke dong ke dosen :)
Nah, ini dia ruangannya. Aku sampai di ruangan kelas dengan kode ruangan yang sesuai di lembar KARTU RENCANA STUDI. Judulnya sih "Kartu" tapi cuma kertas selembar print-printan gitu.
Kelas masih sepi. Banget. Nggak ada siapa-siapa. Masuk aja deh, pilih tempat agak yahud.
Cetak cetik cetuk, klik, trek... Jari-jemariku asyik memainkan handphone. Apalagi coba yang mau aku lakukan di ruangan kelas beberapa meter persegi yang dinginnya nggak karuan. Nggak berlebihan lho. Bayangkan saja, badan masih segar dan dingin efek mandi + keramas, eeh masuk ke ruangan yang nggak terlalu besar dengan 2 AC 1 peka yang nyala tak tanggung-tanggung kencangnya. Oh ya, aku lupa bilang, ini jam 7.15 WIB. Pagi hari. Oke? Sudah terasa belum dinginnya? Cobain aja deh.
Sambil kepala kurebahkan ke meja, jari-jariku masih aktif memainkan handphone.

Suara-suara mulai bermunculan. Sepertinya sudah ada yang bakalan masuk ke ruangan ini dan mengurangi dinginnya hawa kelas.
satu.. dua.. tiga.. empat.. perempuan semua. Nggak ada yang kukenal. Well, sudah pernah lihat sih waktu OSPEK, dan sempat bertegur sapa karena kami kan satu jurusan. Jurusan yang terkenal ramah lagi mulutnya. hahahahhaaaa....! :) Tetap ssaja, mereka bukan teman satu sekolahku. Tapi itu sama sekali bukan halangan untukku.
"Hai," aku mulai membuka percakapan. "Hey juga," sapa seorang gadis berkulit putih, bermata sipit, dengan rambut lurus tergerai sampai pinggang. Kalau kalian membayangkan deskripsi ini yahud banget, datang deh ke kampusku! Sepanjang mata memandang yah seperti ini nih sosok perempuan-perempuan di kampusku kebanyakan. Senyumnya ramah. "Dari kelompok mana OSPEKnya? Aku Stefanus," lanjutku. "Oh, Stefanus. Aku Kornelius." "Wah," sahutku "Kornelius berarti sama Ica, dong?" Ica, salah satu teman akrabku sejak kecil. Kami selalu berada di institusi yang sama. Sejak TK sampai Kuliah. Bahkan, di kampus ini, Jurusan kami sama, dan NRP kami berurutan. "Oh iya. Ica, Marissa kan yah? Yang waktu itu jarinya diperban?" Jawabnya. Aku hanya mengangguk. Haha, emang jari kelingking yang diperban itu pasti paling diingat orang. Pasalnya, beberapa waktu sebelum OSPEK, ada musibah dengan jarinya si Ica temanku itu (namanya Marissa, panggilannya Ica).
Mulai ramai, dan Ica pun datang. "Oy, Ve.. Sorry sorry, tadi masih ada urusan," ucapnya langsung begitu datang sambil menaruh pantat dan barang-barangnya di bangku sebelahku. "Yuk, gapapa. Tadi juga lagi ngobrol sama temanmu satu kelompok tuh," ucapku sambil menunjuk salah seorang teman yang kumaksud.

Kelas mulai ramai. Hampir penuh lebih tepatnya. Ehm.. sejauh mata memandang, kelas ini dominasi 95% perempuan lho. WOW. Panen raya nih para pria! haha...
Ups, datang tuh teman satu kelompokku. "Woy, Ndra!," kusapa dia. "Hwey, Ve.. sek-sek (Sebentar-sebentar)," diucapkan sambil sedikit membungkuk dan langkah cepat. Maklum, si Indra ini datang belakangan. Tapi, percuma deh, mau membungkuk kaya gimana juga pasti kelihatan. Lha tingginya aja 180 cm lebih!.
Seorang dosen pria masih relatif muda, usianya mungkin akhir 20 atau awal 30 deh prekdisiku memasuki lapangan upacara. eh, kelas. "Pagi Teman-Teman!" ucap sang dosen dengan suara yang renyah dan mantap pun membahana. "Pagi, Pak!!" Kompak kami sekelas menjawab sapaannya. "Perkenalkan," masih dengan suara renyah, mantap, dan membahana tadi. Tanpa microphone tentunya. "Nama saya Hari Prayudhi. Saya akan mengajar Pengantar Ilmu Komunikasi untuk kalian. Berhubung ini pertemuan pertama, dan kalian mahasiswa baru. Ada beberapa aturan main yang akan kita bicarakan. Oke?" Tampaknya dosen ini cukup asyik dan nggak egois.
Kelas cukup riuh utnuk membahas peraturan-peraturan kelas yang memang bisa fleksibel bergantung pada otoritas masing-masing dosen pengajar. Asyik juga.
Setelah beberapa aturan main dibuat, pelajaran pertama pun dimulai. "Oke," buka pak Hari. "Awalnya, nggak akan berat-berat. Coba ambil satu lembar kertas," kami pun langsung kompak mengambil kertas dari map, menyobek dari buku, minta teman, dan lain-lain. "Tuliskan nama dan NRP kalian di pojok kanan atas. Jangan lupa tanggal hari ini juga. Kemudian, paparkan, Mengapa kita perlu belajar Komunikasi?. Saya beri waktu 15 menit." Wow, beberapa detik awal kami disibukkan dengan meng-Copy-Paste NRP kami dari buku catatan ke lembaran kertas tersebut. Maklum, anak baru, pertama kali kuliah, NRP 7 digit gitu belum hafal luar kepala.

.....

G...

- Preambule -

photo doc. Eva Tarida
Pertemanan, jelas suatu hal yang penting. Relasi yang -biasanya- seru ini sangat dibutuhkan dalam hidup sehari-hari. Tak menutup kemungkinan ada banyak pertemanan yang berbeda-beda dimiliki oleh seseorang dalam hidup ini. Maksudnya, kalau lagi di Kampus, pasti kita punya "Gank" sendiri. Kalau di tempat kursus, misalnya, ada juga rekan 1-2 orang yang paling sering kita ajak diskusi, atau malah nebeng kendaraan :). Misalnya sudah kerja atau lagi jadi freelance, pasti ada juga kan rekan yang paling dekat.
Baik hanya dengan 1-2 orang saja atau sampai bergerombol, sama saja. Semua pasti menyenangkan. Biasanya, ada satu (atau lebih) kesamaan antar individu. Atau justru uniknya, banyaknya perbedaan yang membuat kami saling melengkapi, seperti kami ini.

Pernah melihat/memerhatikan segerombolan cewek ber-10 cekikian bareng tapi stiap individu berbeda banget (gaya, cara bicara, dll)? Itulah Kami.
Kisah selanjutnya akan saya tuturkan dengan gaya bercerita saya, dari sudut pandang saya, seobyektif mungkin. Tentu saja, nama disamarkan dong :)

Thursday, October 07, 2010

Kebiasaan

Habibie-Gus Dur (Benny Rachmadi). Photo : Doc Eva Tarida

 Ada satu kebiasaanku yang kadang membuat orang-orang sedikit sebal. Mau kusebutkan namanya apa, tapi aku sendiri juga nggak tahu tuh, mesti menyebut kebiasaan itu dengan kata-kata apa.
Jadi begini, saya nih hobi banget ngomong lompat-lompat maju-mundur. Errr... Gimana ya..
Misalnya nih, kita lagi ngobrolin soal A, gitu yang seruuu sampe 2 halaman naskah dialog, tiba-tiba ada bahasan yang bisa "menyempil" di antara bahasan A tersebut -sebut saja bahasan B- yang menjadi topik berikutnya.
Sampai kita ngobrol nggak kalah panjang dengan topik A yang pertama tadi. Lantas, pasti ada saat kita break gitu deh. Ya, Kan? Setengah menit gitu, pasti deh ada breaknya. nah, waktu break itu, bisa tiba-tiba aku nyeletuk suatu hal yang nggak ada kaitannya dengan bahasan B, atau ada kaitannya cuma kok agak nggak nyambung gitu. Saat lawan bicara kebingungan dan bertanya "He, emang apa hubungannya sama B?" Nah lho, langsung deh aku nyahut, "Lho, bukan maksudku itu untuk A" huehehheeee..
gitu deeh..
Mega-SBY. (Benny Rachmadi) Photo: Doc Eva Tarida
Apa yah sebutannya untuk kebiasaan begitu?

















Ada lagi. Kebiasaan yang katanya Sanguin banget, walaupun aku nggak terlalu peduli dengan hal pembedaan Sanguin - Kolerik - Melankolis -Phlegmatis itu.
Kenapa Sanguin dan Kolerik kuletakkan berurutan pertama kali? Karena hasil testku Sanguin-Kolerik. Katanya nggak doyan, kok yah ikutan test aja? Wajib tahu! ada di salah satu pertemuan di salah satu (eh, dua) mata kuliah waktu di Kampus. WEK!
Oke, Back To Topic.
Jadi, saya hobi banget mengulang cerita yang sama. Berulang kali. Tanpa merasa bersalah sedikitpun (nggak wajib deh) kalau cerita itu sudah berkali-kali saya utarakan pada orang yang sama. Nah Lho.
Kalau cuma begitu sih mungkin nggak masalah. Yang ketiban sial bisa aja langsung nyahut "He! Sudah tahuuu!! Kamu udah cerita 5 kali!!" hahahaa..
The problem is, sebaliknya, saya selalu merasa sudah pernah menyeriterakan suatu hal, padahal belum pernah saya ungkapkan sekali pun. Nah lhoo.. hehheeee...


Nah, kalau di akhir buku cerita bergambar karya-karya H.C. Andersen dulu tuh pasti ada "Moral" nya.
Lantas, apa Moral dari postingan saya yang lebih ke arah ngobrol ngalur-ngidul begini?
Ehm... Yah kayaknya nggak ada deh. Cuma sekadar penyadaran diri aja, gitu.
Anyway, this is my own blog. I have my own right to write down anything here* haha

*Terms and condition apply
 
ps: ilustrasi gambar 4 presiden yang saya gunakan ini adalah foto saat saya mengunjungi pameran mengenai buku-buku Benny & Mice. Kedua gambar ini adalah gambar promo untuk buku karya Benny Rachmadi "Dari Presiden ke Presiden"



Tuesday, October 05, 2010

Jokes :)

Jokes – SMS Alay

Alkisah, ada seorang alay yang sms dengan seorang normal
A = Alluw kag! Leh knal? Ap kBrx?
B = Wa’alaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh…Dengan hormat, sampainya pesan ini, saya akan memberitahukan bahwa kabar saya baik-baik saja…. Maaf beribu-ribu maaf, Ini gerangan nomer siapa ya? Kok acap kali sms nomernya ga ke save ya? (bales sepanjang mungkin)
A = Owh ea muuph lupa ng@s1h s4L4m,,,, Ini EnDoet LuThuwna EmbeM C@ianK Cmu@na. Inged gag kag? Eh, kug blzna pjg bgd ch? Gi ng4ps?
B = Yaiyalah panjang…. Lagian ga dibayar perhurup inih! Gw lagi mabok nerjemahin kata2 lo nih. Keypadnya ilang2an ya? Oh elo…. Eh, siapa tadi? Tembem semua? Perasaan temen-temen gw kalopun ada yang tembem paling sebagian dipipi doang. Ga sampe seluruh badan dah.

A = Huft …Plz dund…bkn t3mb3m cmu4, tp ‘emb3m c@iank cMuana’. W AD klaz xmp lw dlu. J4h@d bgd d3ch……fufufuuu :’(
B = Yeeee mana gw apal. Adek kelas gw kan ada banyak. Bayangin misal sekelas ada 25 murid cewe. Dikali 9 kelas. Nah, itung ndiri dah tuh ada berapa! Itu belom dari sekolah2 laen. Mereka kan gw anggep adek kelas gw semua walopun mereka ga nganggep gw. Coba? Masa iya gw apalin atu2. Lu kira gw petugas sensus! Eh itu sebenernya huruf ‘a’ mau lo ganti apasih? Jadi angka 4 apa a keong (@)? Satu aja ribet apalagi dua gw bacanya. Plin-plan lo ah
A = Ea mu’uph kag…. Abzn udh kbi@s44n kag. Jng mrh dund… hix… hix… Oh ea y.. Kn ad bnyk ea… muv dh muv.. Eh kag, w inged loh qt dlu prNh kut xkul PeNcak sLt bReng jG.
B= Jorok lo ah
A = Pencak SILAT kak!!!
B = Ooohhh…. Nah itu bisa nulis bener
A = Tp w kluwar paz 5aBuk quNink. Gag kwt. Uji4nna bRad bGd
B = Gw ga pernah ikut pencak silat. Gw ikut cheers. Yang dipaling atas formasi piramida kan gw. Lagi pula kalo gw ikut pencak silat, sabuknya ga muat.
A = Iyh yng bn3r kag? Bc4nd@ aj dh wkwkwkwkwkwkwkwkwk!!!
B = Etdah lo ketawanya serem amat kayak burung gagak.
A = Eh kag BTW n0m3r hpx kog ckep amad ch? Ky orangx
B = Nama gw bukan betawi.
A = Mksd w ‘by the way’
B = Kenapa emang JALANnya?
A = OMONG-OMONG!!!!
B = Oh… ga tau nih.. Beruntung aja dapet nomer bgini
A = Dpt dri m4n4 kag?
B = Hadiah es orson. Penting amat
A = Kag kuq fesbukx lum d k0nfr1m?
B = Confirm! Bukan Kon-frim! Oh yang foto profilnya dari atas sambil manyun2 itu lo ya? Gw kira fanpage-nya Suneo. Belom-belom. Ntar deh kalo angel foto lo udah bener. Eh, unyeng2 lo ada 5 ya? Ampe keliatan. Banyak amat. Situ pake ekstensen unyeng2?
A = Iyh ka2g bC@nd4 aj@ dh. 1tukan age’ ngetrend kag futu dri @ta5. Mak1n gaG kli4t@n mukax, makin keyenz!
B = Yaiyalah. Gimana mau keren kalo muka lo keliatan. Coba dong sekali-sekali foto profilnya diganti pake fotokopi. Burem, perkecil, bolak-balik.gitu.
A = Mangx uj14n!
B = Biar ga keliatan muke lu. Katanya makin ga keliatan makin kerennn...
Gw yakin asli lo ga sebagus di foto kan? Nih udah gw confirm. Eh, itu
foto2 lo banyak banget yang jari tangan angka satu dimulut. Lagi ngelonin
orok sapa lo? ya ampun.. Lo ga juling foto dari atas semua?
A = Gag. Udh b1aza k0g. Eh, kag mang gi onlen ea? Onlen d kul ap dihumz?
B = Eh kalo bahasa alaynya onlen di WC SPBUÃ apaan? Salah semua tuh
option lo
A = Ih... kakak joyokkkk...
B = Kadir ga diajak?
A = Itu Doyok kaaaggg.... Yah, w lgi gaG onlen niyh kag. Cb klo qt sm onlen, kn bs chat b4r3ng
B = Kita? Lo aja kali ama kawan2 lo. Lagian yang minta lo biar onlen sapeh?!
A = Hix..Hix...Jahad :( Kag kug lum bubu siyh? Kn udh mlm. Mang lum ngantug ea?
B = Gw ga pernah ikut MLM deh
A = Malem Kag maksudx....
B = Udah gede ini. Lagian sembari ngelembur ngerjain tugas nih.
A= Cemangadh!
B = Hdagnamec
A = Paan tuch Kag???
B = Tulisan lo gw balik. Bingung gw nanggepin bahasa lo. Eh tulisan lo bisa di normalin dikit ga? Sedikiiit aja demi gw
A = Oh ea deh kag..
B = Eh, ko gw baca status-status lo semuanya ngambil dari lirik-lirik lagu ya??? Keabisan ide lo? Mana udah di Like-in sendiri, trus ga ada yang comment pula.
A = Eaaa... Abisan w suka bgd kag sm lgu it. Co cweet bgd dech. It jga da lgu knangan sm mantan w dlu
B = (Emang gw pikirin).
A = Ohiya kag! Bsk lusa jm 9 pgi d salah satu stasiun tv nntn w ya!
B = Itu kan acara live musik itu kan?! Yang penontonnya satu panggung sama artis/bandnya. Trus sambil nari2 kompak banget dibelakangnya. Lo jadi artis toh sekarang? Grup band lo apa namanya? Salut gw. Pasti lo jadi vokalisnya ya? Apa lo soloist?
A = Bukan kag, gw jadi penontonx.
B = Huh?!!!!!!! (Keselek)
A = Ea, yng pnting msk tv kag! Gw ma rombongan udh nyiapin tarianx lho kag. Biar kompak nnti narix. Nama tarianx Ngucek-Jemur- Ngucek-Jemur. Tau dund kag ky gmana. Gag ngaruh deh mw bandx apa aliranx apa.
B = Trus kalo bandnya metal gimana??? Masa lo mau tetep joget Ngucek-Jemur?
A = Ya gag ap kag. Lgan band metal mah gag mgkin d hadirin kag. Kyk ga tau aja kag..
B = Yaudah deh, selamat joget ya. Kakak mo tidur dulu. Oia, besok lusa, pagi2 kakak ga bisa nonton situ joget Ngucek-Jemur. Soalnya kakak sibuk mau bikin anyam2an sedotan. Babay!
A = Bye... Met bubu kag. Eh kag, ntr jm2 bolax pa?
B = Hah?! Lo suka nonton bola pagi2 juga?
A = Yaelah bgadang nntn bola wajar x kag
B = Lo cowo apa cewe sih?!
A = Cow. Mang np?
B = Lah itu foto2 difesbuk?!
A = Itu mantan w kag. Fto w d album Juzt Me
B = ............ ......... ......... .......
A = Kag?
B = Eh iya sori. Udahan dulu ya. Gw baru ngeliat UFO nih. Bye!

taken from my friend's Page, Rendy- 
(disempurnakan 25/11/11)