Showing posts with label Love. Show all posts
Showing posts with label Love. Show all posts

Saturday, March 27, 2021

An Introvert

 “How Come You are an Introvert?”

(Evatarida.blogspot.co.id)

This question thrown to me more than I thought I’d hear. 

“As an extrovert like you, this must be awful.” Another statement given to me. 

“There’s no way you’re an introvert. No introvert will do it that way.”

Friday, October 13, 2017

He's Just Not That Into You

Cheers!
@evatarida evatarida evataridasitompul

Many of us are contaminated by the word "friendzone" Like we are now served with a phase of our life - well love life- that we can get away with by throwing the friendzone word.
But is it really true?
Or is it really works as it sounds?

For me, it should be easily translated into "he/she is just not that into you".

How come?

So, many of us might have been caught up in a heated and intense conversation with someone. for weeks, or even months. So much that we, like it or not, realize it or not, get attached by the routine. 
By the time being on texting basis, it seems all the feelings were reciprocated. Easy, because when you text, you have all the time in the texting standard time to arrange a proper answer/respond. It'll be so much different when the conversations or the on going relationship is done by doing face to face meet up, direct contact, or so.

Monday, October 09, 2017

Another Tick on My Bucketlist: Eurotrip (Part 1)

Another tick on my bucket list!

For every darkness, God has set the light to shine afterwards.
A phrase that I can now give an ‘Amen’ to. And silver lining on its way also.
This November 2016, I was blessed with so many thing that I can put another tick on my bucket list.
EURO TRIP (TICKED)!

Yes, baby! I finally stepped my foot on this continent! AAAAAAKKKKK! So happy! :D Beyond happy! When the things you’ve been dreamed on for times finally come true! – Man! And while writing this, Diane Schuur’s Try A Little Tenderness is playing! Haha how lovely. –
So, since I’m an employee, I can’t just burst away for weeks to have a little heavenly trip for myself. Yeah, I have to input a leave permission. That’s the first thing. So, 14 days. That’s how many days I got to make sure I got to feel the winter cold weather and snowy nose! :p

I was there with two of my friends. There were just three of us, and no, we did not use any tour agent. We did it backpacker style! Yeah! Well, we brought suitcases of course, big ones too, since it was winter there and we need coats and warm clothes, and literally impossible for just carrying backpack there. But, hell, we did it ourselves! Yeah!  I put to many exclamation mark. I know, sorry. Nope, not sorry. I was super excited! Still am! Hahaha... So bear with me with the abuse of exclamation mark’s usage in this one posting.

Friday, September 30, 2016

(Not) Getting Married (Yet)

Diamond Ring on My Hand :) - Evatarida - @evatarida - evataridablog - evataridasitompul


"I don't know about you, but I'm feeling twenty two! [Taylor Swift]" no, I'm not 22, I'm in fact 28. I already on my late 20s, and closer to 30 haha. Problem? No, not at all. For me. But it seems like it becomes problem for those around me.  Why? 

I'm still single.

Thursday, September 29, 2016

Seprapat

Postingan ini saya tulis karena iseng semata. Karena tiba-tiba tadi saya teringat akan hal yang sering terjadi pada saya. Entah kenapa, banyak sekali yang mempertanyakan saya ini asli mana.

"Kamu tuh orang mana sih, Va? Nama Sitompul, tapi kalau ngomong kok medhok! Trus kulitmu putih, tapi rambutnya keriting." 

Hahaha

Jadi sekalian aja deh..

Saya ini orang seprapat. 

Maksudnya?

Seprapat mBatak
Seprapat Jowo
Seprapat Kupang
Seprapat Londo

Gitu deh! Viva la anak gado-gado!
Heuheu

Friday, August 05, 2016

Mendadak ke Pulau Pramuka

Tepatnya minggu lalu, saya sedang tidak punya rencana apa-apa menghabiskan weekend.
Agak bete juga sih. Sebelumnya, sudah ada rencana dengan beberapa teman kantor, tapi harus dibatalkan karena ada tugas datang yang manghalangi kelancaran rencana kami ini.
Jadi, saya berpikir,"ya udah, tar weekend jalan-jalan sendiri aja terus beli DVD serial, trus nonton sampe bosan" - yep, saya sangat doyan nonton serial. Nope, bukan serial Korea, jadi jangan tanya soal referensi serial Korea ke saya, yaa..

Kamis malam, saya lagi main instagram dan lihat beberapa posting dari teman-teman. Mendadak saya kangen nyebur. Ke laut. Alias Snorkeling atau super duper Short Free Dive (about 5-10 seconds only hahaha). Jadi saya kontaklah teman saya "Yan, ke Pulau Seribu yuk?" dan Dian pun setuju. Jadi deh doi cari-cari di inet, dan dimulailah our impulse-traveling for the weekend ke Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu XD

Friday, April 29, 2016

Feeling that Feels Like Love

"People are strange when you are a stranger"
sepenggal lirik dari The Doors ini mirip dengan peribahasa yang sudah lama malang melintang di jagad Indonesia ini; Tak kenal Maka Tak Sayang. Begitulah kurang lebih menurut saya. Begitu, bukan? :D

Adalah wajar kalau kita merasa aneh atau awkward dengan seorang stranger, atau orang yang baru kita temui. Ya sudah pastilah.. Lha namanya aja baru tahu tadi. Belum tentu juga tahu usianya. Mau tanya takut disangka ngga sopan. tapi kalau ngga tanya, nanti guyonannya ngga nyambung gimana, berabe kan? Mau becanda ala biasanya, takut nanti orangnya sayensitip jadi tersinggung. Atau jangan-jangan orangnya super lemot, jadi ngomong apa aja doi cuma plonga-plongo ngga ngerti kita lagi obrolin apa.

Haha..

Pikiran-pikiran seperti itu pasti bisa muncul saat kita pertama kali ketemu atau dikenalin ke orang baru.
Seiring berjalannya waktu tentu kita akan makin tahu dan mengenal seseorang. Entah nantinya kita akan kenal baiiiikkk banget atau ya sekedar tahu kalau orang ini agak sensi kalau ngomongin umur, atau tentang "kapan kewooonggg?" gitu.

Monday, November 09, 2015

It Takes Two to Tango

It takes two to tango. Sebuah frase yang sudah sangat terkenal. Entah benar atau tidak kita memaknainya.

Secara basic, makna idiom di atas adalah suatu kejadian atau situasi yang melibatkan dua pihak dan kedua belah pihak sama-sama bertanggungjawab atas kejadian/situasi tersebut. 
Intinya, tidak bisa hanya menyalahkan satu pihak saja. Walaupun memang, bobot kesalahan belum tentu sama besar. Karena sama seperti ungkapan lawas bilang, tiada asap tanpa ada api. Yang artinya ada sebab maka ada akibat. 
Mungkin ngga sih sesuatu terjadi (akibat) tanpa ada pemicunya (sebab)? Ngga tahu. Belum bisa ngomong sih saya. Belum ranahnya. Mungkin bisa, mungkin juga tidak. Misteri ilahi. Hehehe

Dalam keseharian, kita selalu dihadapkan dengan pilihan. Dari kita ngga sengaja kebangun dengar alarm berdering kencang dari smartphone kita. Itu saja kita sudah dihadapkan dengan pilihan yang pelik... Turn off atau snooze. Ambillah kita pilih turn off. Apa lantas kita langsung bangun? Eitss belum tentu. Setelah kita turn off, ada beberapa pilihan lagi, seperti langsung bangun dan menyadarkan diri kembali ke realita, atau meyakinkan diri sendiri kalau kita mampu kok tidur 5 menit lagi dan terbangun dengan sendirinya 5 menit lagi. Atau kita turn off lalu ambil smartphone kita dan mulai ceki ceki semua sosmed yang terlupakan selama kita menikmati bunga tidur kita? Nah.. Berat kan? Jangan dikira keputusan berat itu hanya terjadi saat mau pilih investasi ratusan juta... Turn off dan snooze aja sudah beraatttt.

Monday, October 19, 2015

Break Up

Break Up.
It's something that somehow (almost) everybody would experienced. Either once, twice, three times, or more. Either having it with different person, or going on and off with the same person.
I, myself just experienced it. This wasn't my first break up, but with the same person on and off. But this time, I guess this was really the final straw.

I once read that people can actually die because of broken heart. Really? I have to quote you one of fine line from one of my fave TV series, Perception

"Why are breakups so damn excruciating? 

Thursday, May 28, 2015

Apakah Cinta & Kesetiaan (Masih) Belum Cukup?

Banyak yang bilang, cinta datang tiba-tiba. Ada yang bilang cinta datang karena terbiasa, ada juga yang percaya dengan cinta pada pandangan pertama. Jujur, saya bukan penganut aliran yang terakhir itu. Buat saya, tidak ada namanya cinta pada pandangan pertama. Terpesona pada pandangan pertama, iya. Takjub pada pandangan pertama, iya. Tertarik pada pandangan pertama, iya. Tapi cinta? Menurut saya tidak seinstan itu. Mie instan saja tetap butuh proses.

Wednesday, October 30, 2013

Life Learned

Some people are blessed with easy path in their life. Might be in almost every aspect of his life. In love, career, friendship, or else. On the other hand, some people are blessed with mazed path in their life. And the maze might also occur in almost every aspect of their life. Complicated love story, complocated friendship moments, and et cetera.

Thursday, December 13, 2012

The Christmas Shoes

It's December already... Only around a week before Christmas!
Well, Christmas, since few years back for me is nothing more than just another celebration. Yeah, I know what does it meas, and on and on, but somehow.... I could tell.. It just becomes another national Holiday and hurray Nice family time!

On marketing group in my office, everyday we always play songs through one of our playlists. One day it could be my playlist, tomorrow could be another's. And for today, we decided to start playing the Christmas songs. And of course we set the Office's Christmas Tree. It was fun tho.

I love music, and I love to sing, so any song could really hit my mind and urge to sing as long as it suits me :) One time, just a few minutes ago before I wrote this post. I was getting ready to eat my snack and wandered around the marketing desk when my ear caught a nice lyrics from my friend's Christmas song's playlist. I wasn't familiar with the song, but the lyrics really caught a glimpse.

The story of the song was one kinda familiar touching story about a nice poor buy with all of his pureness heart wanted to buy something for his mom/dad who is dying, and somehow he didn't have much money even tho the money on his hand is worth long time saving. And someone there become his Santa Claus at that time. It is a song for a movie with the same title, The Christmas Shoes.

I, nowadays become very skeptical about almost everything. And I live my life like it should and as it flows on. But the song, the lyrics, and supported by beautiful melody made me realize again the meaning of Christmas. And of course to imply it in our daily life.

Please enjoy the lyrics below. I'll give you the link to download the song.

THE CHRISTMAS SHOES - NEWSONG

It was almost Christmas time, there I stood in another line
Trying to buy that last gift or two, not really in the Christmas mood
Standing right in front of me was a little boy waiting anxiously
Pacing 'round like little boys do
And in his hands he held a pair of shoes

His clothes were worn and old, he was dirty from head to toe
And when it came his time to pay
I couldn't believe what I heard him say

 

Chorus:
Sir, I want to buy these shoes for my Mama, please
It's Christmas Eve and these shoes are just her size
Could you hurry, sir, Daddy says there's not much time
You see she's been sick for quite a while
And I know these shoes would make her smile
And I want her to look beautiful if Mama meets Jesus tonight

He counted pennies for what seemed like years
Then the cashier said, "Son, there's not enough here"
He searched his pockets frantically
Then he turned and he looked at me

He said Mama made Christmas good at our house
Though most years she just did without
Tell me Sir, what am I going to do,
Somehow I've got to buy her these Christmas shoes

So I laid the money down, I just had to help him out
I'll never forget the look on his face when he said
Mama's gonna look so great

Sir, I want to buy these shoes for my Mama, please
It's Christmas Eve and these shoes are just her size
Could you hurry, sir, Daddy says there's not much time
You see she's been sick for quite a while
And I know these shoes would make her smile
And I want her to look beautiful if Mama meets Jesus tonight

 

Bridge:
I knew I'd caught a glimpse of heaven's love
As he thanked me and ran out
I knew that God had sent that little boy
To remind me just what Christmas is all about

 

Repeat Chorus

Download MP3 HERE
Or HERE
enjoy the video HERE

So, quoting from John Lennon and Yoko Ono's  So This Is Christmas (War Is Over):
So this is Christmas, and what have you done? Another year's over, a new one just begun.....

I really wish to have a better life, for me and everybody. Everybody loves everybody in this good ol' EARTH!
:)

Thursday, December 06, 2012

Michael Learns To Rock LIVE IN INDONESIA Concert

"I won't forget, the way you're kissing, the feeling's so strong, were lasting for so long. But I'm not the man, your heart is missing. That's why you go away, I know..."

That part of lyric above seriously must be very familiar in our beloved ears. And I was one of among hundreds people last night (Dec 4th, 2012) who fortunately able to watched and listened to Michael learns To Rock (MLTR) LIVE! :D

The Tickets. - Eva Tarida Pict
It's not their first concert in Indonesia. In 2005, they already held a concert here in 6 cities, including Surabaya. For 2012, they held the concert in 3 cities only: Balikpapan (Nov 29th), Jogjakarta (Dec 1st), and last but not least, Surabaya (Dec 4th). :D. 

I wasn't able to attend their concert back then in 2005, so then when one of my MLTR freak, San-San informed about MLTR around 2 months ago, I immediately search for any news! And Bought the ticket if available! At that time, the ticket wasn't available yet, so we just planned to go. but unfortunately, when we found out the concert date was on Dec 4th, San-San couldn't attend it. She was expecting, and Mid Dec 2012 is her due date. On October, one of my best friends, who also Oldies Maniac, Arlitaria suddenly sent me a message, that one of her friend was went to bought MLTR ticket! Do I need time to think?? NO!! I even ordered for 2 tickets (one for my BF, without his permission! hahahaha - but I believed he'd be just happy! Haha).

For short, here we come in to Dec 4th, 2012. 
I permitted myself to go home earlier. Got prepared, and drove to Gramedia Expo, Surabaya with my BF. The line wasn't that long, so we just had to waited for Arlita and her friends, then we joined the line to came in. Our tickets were in Festival B class (the cheapest :p). But, it won't hold us from enjoying today's concert.

Greeting Screen which Appeared for About an Hour. - Eva Tarida Pict
MLTR's Stage After Black Out Just Before They Entered The Stage. - Eva Tarida Pict

We waited for almost an hour before the concert started. Because they didn't provide us with the opening band, it was a bit uncomfortable to waited for an hour there. Then around 8 PM, suddenly the room was blackout, and some Lights-form on stage's LCD were playing, and there they were entering the stage! Jascha Richter (vocalist), Mikkel Lentz (guitarist) dan Kåre Wanscher (drummer), and additional bassist who replaced their former bassist, Soren Madsen, started to play their song from their Scandinavia album. The song called Renovate My Life. Thank God I already bought their CD few months back, so I was a bit familiar with this song.

MLTR's Stage during Love Will Never Lie. - Eva Tarida Pict

MLTR's Stage during Love Will Never Lie. - Eva Tarida Pict

Right after Renovate My Life finished, they greeted us! "Hello Surabaya!! Finally we've got to see you guys again!," greeted Jascha which gained the screams from us as a response! :D
Then, not much talking, the Sleeping Child intro was filling the air!! Whoaa!! the crowd went crazy!! :D

MLTR really didn't waste our time during their concert. After 1 song finished, they always said "Thank You...." and then continued to gave us brief description about the next song.

MLTR's Stage During The Actor. - Eva Tarida Pict
One of their Big Hit, The Actor was sung on 7th song on their list. Jascha gave a brief entrance that he wrote this song while he still had nothing, and by then if you wanted to had a GF, you need to had a car to impressed them. So then, The Actor was on the air!! Of course, everybody cheered and sang along!! Then, suddenly they walked out of the stage, and the crowd went crazy because we wanted more! OF COURSE! And they kept us waiting for a minute or two, suddenly mikkel came out with acoustic guitar and played the intro of my FAVE MLTR song, I'M GONNA BE AROUND!! And the crowd (ME of course) screamed out loud! We sang along together with Jascha!

MLTR's Stage During Naked Like The Moon. - Eva Tarida Pict

What envied us was, on some slow-romance song, Jascha would stepped down the stage, and greeted the VIP guests personally!!! AAAAAHHHHHHHHHHHH!! I WANTED IT!! No, WE WANTED IT!!! XD

They also sang some New songs from their new Album, Scandinavia. :)
MLTR's Stage During Blue Night. - Eva Tarida Pict

MLTR's Stage During Blue Night. - Eva Tarida Pict
MLTR's Stage During Take me To Your Heart. - Eva Tarida Pict
MLTR's Stage During Take me To Your Heart. - Eva Tarida Pict
MLTR's Stage During Take me To Your Heart. - Eva Tarida Pict


Just 1 thing, on some great songs like Complicated Heart, Blue Night, Wild Women, 25 Minutes, not everybody seemed familiar with those song. Perhaps, they only noticed MLTR by MLTR's greatest Hits such as "That's Why You Go Away" "Sleeping Child" "The Actor". Even Someday, which video made in Bali, wasn't familiar for most of the attendances.. But NOT including Me, My BF, My Bestfriend, Arlita, and 2 other women we met there :D We can sang around 20-21 of 23 songs that night!!

MLTR's Stage - Eva Tarida Pict

MLTR's Stage - Eva Tarida Pict


When they played You Took My Heart Away, almost all of us could sang it. And then Mikkel made a comment "Wow, It's like karaoke you know" :D

Awesome super awesome! After about 20 songs, they said goodbye.. but hey, we're not that amateur on Concert attending! So we knew exactly that was just a teaser for another 2 or 3 songs. So, I started to yelled "WE WANT MORE" and the crowd yelled WE WANT MORE together! And there the 3 of them played the intro of Bryan Adam's Everything I Do to jumped in to "That's Why You Go Away" whoooaaaaa!!!!! We went craaaaaazzzyy again!! ;):)
Over all, they ended thonight's concert with Paint My Love and Scandinavia ;)

MLTR's Stage During Anything You Want It. - Eva Tarida Pict

MLTR's Stage During Anything You Want It. - Eva Tarida Pict
MLTR's Stage During Anything You Want It. - Eva Tarida Pict
MLTR's Stage During Anything You Want It. - Eva Tarida Pict

It was reaalllyy awesome! :):):) I was satisfied! Really!

AH! One again I forgot to mention! When they sang 25 Minutes, suddenly after the bridge, they inserted the refrain part of All Out Of Love from Air Supply! Can you imagine it?? Whoaaaa!! Don't! just come to their concerts!!! I guarantee your satisfaction!! Their voice and performance just as great as the cassettes, CDs, VCDs, etc, etc!!! Really good voice and music performance! :D

Around 10.20 PM the show was over, and we went home, Of course with special slide on the stage from MLTR! :)
MLTR's Goodbye Screen to Surabaya's People! - Eva Tarida Pict
Please enjoy some of the Videos I've taped during the show:
                      MLTR - 25 Minutes - Eva Tarida


MLTR - I'm Gonna Be Around - Eva Tarida

MLTR - Sleeping Child - Eva Tarida


 MLTR - Scandinavia - Eva Tarida


And Many more Videos.. :P :D

List of their songs:

Renovate My Life (Scandinavia - 2012)
Sleeping Child (3rd Album - 1996)
Hanging On (Scandinavia - 2012)
Love Will Never Lie (Played on Pepper - 1995)
It's Gonna Make Sense (Eternity - 2008)
Heaven is My Alibi (Scandinavia - 2012)
The Actor (1991)
Naked Like The Moon -- Jascha Solo (Played on Pepper - 1995)
I'm Gonna Be Around
Animal (Nothing To Lose - 1997)
Complicated Heart (1996)
Blue Night (2000)
You Took My Heart Away (2000)
Take Me To Your Heart (2004) -- remake of Jacky Cheung's Goodbye Kiss
Final Destination (2004)
Breaking My Heart
Any Way YOu Want It (Scandinavia - 2012)
Wild Woman
25 Minutes - insert All Out Of Love reffrain
Someday (1996)
Paint My Love (1996)
Scandinavia (Scandinavia - 2012)
That's Why (You Go Away) (1996) -- with Everything I Do's Intro

NB: All Pictures and Videos are courtesy of Eva Tarida Sitompul (evatarida.blogspot.com). You may grab it, but please mention the source. Message me for the real resolution. Thanks.

Monday, November 26, 2012

Just Give Me A Reason

We were driving back home when my sister's playlist started a nice song.
It's a P!NK song. She's a P!NK maniac actually.
New P!NK song featuring Nate Ruess. Not familiar with Nate Ruess? He is the vocalist of FUN band. The band which famous with their We Are Young single :) Oh and I love FUN too..
This song carries P!NK hard-meaningful lyrics, and also the FUN in the music. :)

I love it on my first heard yesterday. Immediately download the mp3, official MV, and the lyrics.
I'll share those 3 to you my beloved reader here :)

Please enjoy P!NK feat NATE RUESS, Just Give Me A Reason!

"Just Give Me A Reason"
(Pink feat. Nate Ruess)


Right from the start
You were a thief
You stole my heart
And I your willing victim
I let you see the parts of me
That weren't all that pretty
And with every touch you fixed them
Now you've been talking in your sleep oh oh
Things you never say to me oh oh
Tell me that you've had enough
Of our love, our love

Just give me a reason

Just a little bit's enough
Just a second we're not broken just bent
And we can learn to love again
It's in the stars
It's been written in the scars on our hearts
We're not broken just bent
And we can learn to love again

I'm sorry I don't understand

Where all of this is coming from
I thought that we were fine
(Oh we had everything)
Your head is running wild again
My dear we still have everythin'
And it's all in your mind
(Yeah but this is happenin')
You've been havin' real bad dreams oh oh
You used to lie so close to me oh oh
There's nothing more than empty sheets
Between our love, our love
Oh our love, our love

Just give me a reason

Just a little bit's enough
Just a second we're not broken just bent
And we can learn to love again
I never stopped
You're still written in the scars on my heart
You're not broken just bent
And we can learn to love again

Oh tear ducts and rust

I'll fix it for us
We're collecting dust
But our love's enough
You're holding it in
You're pouring a drink
No nothing is as bad as it seems
We'll come clean

Just give me a reason

Just a little bit's enough
Just a second we're not broken just bent
And we can learn to love again
It's in the stars
It's been written in the scars on our hearts
That we're not broken just bent
And we can learn to love again

Just give me a reason

Just a little bit's enough
Just a second we're not broken just bent
And we can learn to love again
It's in the stars
It's been written in the scars on our hearts
That we're not broken just bent
And we can learn to love again
Oh, we can learn to love again
Oh, we can learn to love again
Oh oh, that we're not broken just bent
And we can learn to love again 
Download the mp3 here: LINK download
Download the Official MV here: LINK download
Watch only the official MV here: LINK to watch

Or, you can simply watch the Official MV here below :):) :
              
And I am still amazed with this song. :) Just a song that very suit with my already 6 years relationship (and keep going) with my BF :):)
Lovely one! Way to go P!NK and Nate!!

Tuesday, November 06, 2012

Bicara Pria, Bahasa Wanita - by: Lilik Harwani

Posting kali ini, aku ambil dari blog branch managerku yang di Jakarta :)
A great professional woman, married, and has 2 teenagers :)

Posting ini akan sangat menyenangkan untuk kita yang sedang dalam hubungan asmara (pacaran), atau baru menikah, atau sudah cukup lama menikah, dan juga untuk yang sedang men-jomblo, bisa juga untuk pengetahuan :)

source of real article: LILIK HARWANI WORDPRESS

PLEASE ENJOY:

Bicara Pria,  Bahasa Wanita

Wanita : (berjalan ragu di depan sang pria dengan gaun hasil seleksi sehari penuh)    
              “Sayang, aku cantik tidak dengan baju ini?”
Pria     : “He-eh?” (sambil terus menatap TV melewati bahu sang wanita)
             “Yahuii…Goal! Benar khan Yank.. Brazil menang..”

Cuplikan intermezo di atas hanya sekedar contoh bahwa ada banyak perasaan wanita yang tidak dipahami pria, tapi tidak sedikit juga sikap pria yang sulit dimengerti oleh wanita. Sama-sama makhluk ciptaan Tuhan, sama-sama memiliki rasa ingin dicintai dan mencintai, tapi bukan berarti mereka harus memiliki cara pandang dan cara berpikir yang sama.

Dapat dikatakan bahwa pria dan wanita mempunyai “gaya bicara dan bahasa” yang sangat berbeda. Umumnya wanita melancarkan GTM (=Gerakan Tutup Mulut) dan pasang muka seperti amplop dilipat bila sedang tidak berkenan dengan si pria. Sebut saja Nina, melihat aksi diamnya, sang suami bertanya,”Ada apa?” – “Nggak ada apa-apa!”, jawab Nina dengan nada yang ada apa-apa. “Oh, ya sudah!”, balas suaminya sambil terus asyik membaca koran. Jengkel khan?

Tapi di lain kesempatan, sebagai makhluk yang memang butuh berekspresi lewat kata-kata, wanita sering merasa tidak mendapat tanggapan yang diharapkan. Setelah sekian banyak kalimat yang diucapkan untuk menyampaikan rasa bahagia yang ingin dia bagikan, atau mungkin juga rasa kesal yang ingin dia salurkan, eh..si suami malah memotongnya dengan kata-kata yang mematahkan semangat, atau response pendek dengan sekelumit kata “Ya” — “Ehm”. Jangan kecewa, karena memang demikianlah adanya bahasa pria. Bukan dia tidak perhatian, tapi dia hanya mau bersikap praktis saja.

Mau tak mau, dan harus mau diakui bahwa banyak sikap pria yang membuat wanita bertanya-tanya. Di satu saat pria mengambil jarak seakan tidak mau diganggu oleh istri. Dia lebih membutuhkan mobilnya ketimbang kehadiran sang istri. Adakah yang tidak beres dalam hubungan mereka? – Tidak ada!. Dan adakalanya, tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba si pria datang dengan begitu mesra dan romantis. Peluk hangat dan berjuta kata cinta bisa dia ungkapkan pada sang istri. Bingung lagi khan?. Ada waktunya pria juga butuh ruang untuk dirinya sendiri. Biarkan saja.

Itulah sosok pria, apapun keadaannya, hangat, cuek, perhatian atau acuh tak acuh, dia tetap seorang pria yang butuh dihargai, dihormati dan diterima apa adanya. Secara fisik dia memang tampak kuat dan tegar, tapi secara psikologis, dia selalu memerlukan dukungan dan pengakuan, terlebih dari orang yang paling dekat dengannya. Istri!. Walaupun dia tidak pernah mau mengungkapkannya secara eksplisit.

Lalu bagaimana dengan wanita? Banyak hal yang pria ingin mengerti tentang wanita tapi sampai kapanpun dia tidak akan bisa memahami makhluk yang disebut kaum hawa ini

 1. Koleksi : Lemari nyaris tak sanggup lagi menampung hasil belanjaan tiap akhir pekan. Tetap saja mereka berkata tidak punya baju, sepatu dan tas untuk ke pesta. bagaiman dengan baju yang dibeli 2 bulan lalu? Mengapa harus beli yang baru lagi?. Memang sulit dipahami.

2. Pertanyaan klise : “Sayang, menurut kamu saya gemuk atau kurus ya?”. Pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab, dan pria sering terjebak karenanya. Dijawab “tidak!” katanya bohong. Dijawab “ya!” bisa bikin wanita marah. Kalau sudah begini pria lebih senang menghindar dan cari kesibukan lain. Betul!!

3. Ekspresif : Wanita paling senang mendengar kata-kata cinta setiap saat dan ini membuat bingung kaum pria. Bagi pria, yang sederhana sajalah, “Kalau saya selalu ada di sini untuk kamu, itu artinya apa?”

4. Dine Out : Karena alasan diet, wanita sering menolak menu nikmat yang berat. Tapi bila si pria memesan steak tenderloin daging import, maka sambil ngobrol, tangan wanita tak berhenti mencomot entah kentang, entah “secuil” potongan daging. Kenapa sih?? – Ah cuma iseng, khan nggak banyak!. Bisa ditebak apa yang ada dalam hati si pria?.

5. Spirit of buying : Bila pria ingin menghadiahkan sesuatu dan si wanita diminta untuk memilih sendiri warna yang dia suka, maka “Jangan ah, mahal!. Sayang!”. Tapi giliran si pria melarang wanita membeli barang yang notabene sama dengan 3 koleksi terdahulunya dan belum sempat terpakai, maka “Ayolah, kapan lagi ada sales sebesar ini. Sayang  kalau nggak dibeli!”. Lagi-lagi bikin bingung khan?

Apapun kondisinya, pria dan wanita pasti berbeda dengan segala kekurangan dan kelebihannya masing masing. Mereka diciptakan untuk saling mengisi dan melengkapi.

Jalan rajawali di udara, jalan ular di atas cadas, jalan kapal di tengah-tengah laut, dan jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis. Perumpamaan untuk sebuah realita kehidupan yang unik tapi indah.

by: LILIK HARWANI blog

Wednesday, September 12, 2012

Playing Online Photo Editor

I'm not that kind of artsy girl when it come to editing photo/picture. Somehow I manage my self to have a little trial today.
This super easy online photo editor website helped a lot. Anyway, I've done a very awful picture editing (ugh...) before I fill the online photo editor space. geezee...
I know I'm a bit outdated, but you may visit this link to have simple trials like I did :)

Trial 1:







Trial 2:





Trial 3:


Trial 4:





I don't know how do you guys think :) The object of the images are all myself and my boyfriend. :D












Monday, June 11, 2012

My Online Shop

Just crossed my mind one day to have another income. My dream is to have my own work. Whether it's restaurant or shop or whatever. Looking at my too much clothes and shoes, I decided to sell them with special price. You know, the secondhand things.
Then I made a blog on February 2012. It was first only for my used wardrobe or my new-but never been used wardrobe's shop-window. Then I found out that on Blog, this selling thing didn't affect too much.
So, on my way to office, I sometimes listens to the radio. One of their routine ad-lips was about a website for online shopping. So, I decided to also make one there. Well then, I officially starting my Online shop :)

Please do have a visit:
My Blog: Secondhand-Wardrobe.blogspot.com


My Twitter Account: @2ndhandwardrobe





My Tokobagus: evatarida.tokobagus.com


Phone Call: 082332330671 :)

Satisfaction guarantee! :D

Tuesday, May 15, 2012

The Imperfections That We Long To Feel Again

Come again another Sunday Service. Last Sunday, only me and my two sisters who attended it. Because my mom and dad were both ill. 
The priest were talked about LOVE and OBEY. He dropped down one by one of his explanation.
The interesting thing was that he used Power Point Media to visualized his sermon.

Wednesday, April 25, 2012

Happy 4th Anniversary, Tristiana

Jadi, seperti di postingan saya sebelumnya mengenai saya dan sahabat-sahabat saya, saya punya 4 sohib karib. Salah satu dari kami akan segera melangsungkan pernikahan! Auuww.. Sweet... Irii... ahahhahaa..
Manisnya lagi, bulan April ini adalah tahun ke-4 mereka merajut kasih.
So, special untuk Tristi and Leo, Happy 4th anniversary!! 

Tristiana dan Leo

 Be patient for arranging your soon-will-be-held wedding party this Summer!! :)
Contact us your besties for any help, darling!! :)

http://www.facebook.com/profile.php?id=1326595185

Sebagian Alasan Kenapa Dokter Dokter Di Negara Maju "pelit" Kasih Obat ke Anak yang Sakit

 Sekali lagi, saya memanfaatkan waktu luang saya untuk browsing di internet, dan menjelajah situs pertemanan facebook. Saya membuka profil teman saya, dan mendapati adanya artikel yang ia share. Berhubung toh nanti saya pasti jadi Ibu juga, jadi saya iseng saja baca. 
Cukup menarik dan menambah pengetahuan.
Di bawah in ceritanya saya co-pas apa adanya :)

Sebagian Alasan Kenapa Dokter Dokter Di Negara Maju "pelit" Kasih Obat ke Anak yg Sakit

** Dimana Salahnya?**

Malik tergolek lemas. Matanya sayu. Bibirnya pecah-pecah. Wajahnya kian tirus. Di mataku ia berubah seperti anak dua tahun kurang gizi. Biasanya aku selalu mendengar celoteh dan tawanya di pagi hari. Kini tersenyum pun ia tak mau. Sesekali ia muntah. Dan setiap melihatnya muntah, hatiku ...tergores-gores rasanya. Lambungnya diperas habis-habisan seumpama ampas kelapa yang tak lagi bisa mengeluarkan santan. Pedih sekali melihatnya terkaing-kaing seperti itu.

Waktu itu, belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak juga ada perbaikan aku membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dokter Knol namanya.

"Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection." kata dokter tua itu.

"Ha? Just wait and see? Apa dia nggak liat anakku dying begitu?" batinku meradang. Ya…ya…aku tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain. Dikasih obat juga enggak! Huh! Dokter Belanda memang keterlaluan! Aku betul-betul menahan kesal.

"Obat penurun panas Dok?" tanyaku lagi.
"Actually that is not necessary if the fever below 40 C."

Waks! Nggak perlu dikasih obat panas? Kalau anakku kenapa-kenapa memangnya dia mau nanggung? Kesalku kian membuncah.
Tapi aku tak ingin ngeyel soal obat penurun panas. Sebetulnya di rumah aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat jenis lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter disini pelit obat. Karena itu aku membawa setumpuk obat-obatan dari Indonesia, termasuk obat penurun panas.
Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya juga bertambah. Aku segera kembali ke dokter. Tapi si dokter tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium baru akan dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.

"Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok," kataku.
Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. "Apakah dia sudah minum suatu obat?"

Aku mengangguk. "Ibuprofen syrup Dok," jawabku.

Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah ngomel-ngomel,"Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak lebih baik beri paracetamol saja."

Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku betul-betul jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas kedokteran tau! Nah kalau buat anak nggak baik kenapa di Indonesia obat itu bertebaran! Batinku meradang.
Untungnya aku masih bisa menahan diri. Tapi setibanya dirumah, suamiku langsung menjadi korban kekesalanku."Lha wong di Indonesia, dosenku aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya je. Mau 37 keq, 38 apa 39 derajat keq, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit panas, penurun panas ya pasti dikasih. Sirup ibuprofen juga dikasih koq ke anak yang panas, bukan cuma parasetamol. Masa dia bilang ibuprofen nggak baik buat anak!" Seperti rentetan peluru, kicauanku bertubi-tubi keluar dari mulutku.

"Mana Malik nggak dikasih apa-apa pulak, cuma suruh minum parasetamol doang, itu pun kalau suhunya diatas 40 derajat C! Duuh memang keterlaluan Yah dokter Belanda itu!"

Suamiku menimpali, "Lho, kalau Mama punya alasan, kenapa tadi nggak bilang ke dokternya?"
Aku menarik napas panjang. "Hmm…tadi aku sudah kadung bete sama si dokter, rasanya ingin buru-buru pulang saja. Tapi…alasannya apa ya?"

Mendadak aku kebingungan. Aku akui, sewaktu praktek menjadi dokter dulu, aku lebih banyak mencontek apa yang dilakukan senior. Tiga bulan menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan belajar banyak hal, tapi hanya secuil-secuil ilmu yang kudapat. Persis seperti orang yang katanya travelling keliling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, lalu dua hari pergi ke Roma. Dua hari di Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas beberapa hari berdiam di Berlin dan Swiss, kemudian waktu habis. Tibalah saatnya pulang lagi ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa, padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama saja. Masih banyak sekali negara dan kota-kota di Eropa yang belum disambanginya. Dan itu lah yang terjadi pada kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Malah kadang-kadang apa yang sudah kami pelajari dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari. Berharap bisa memberikan resep cespleng seperti dokter-dokter senior, akhirnya kami pun sering mengintip resep ajian senior!

Setelah Malik sembuh, beberapa minggu kemudian, Lala, putri pertamaku ikut-ikutan sakit. Suara Srat..srut..srat srut dari hidungnya bersahut-sahutan. Sesekali wajahnya memerah gelap dan bola matanya seperti mau copot saat batuknya menggila. Kadang hingga bermenit-menit batuknya tak berhenti. Sesak rasanya dadaku setiap kali mendengarnya batuk. Suara uhuk-uhuk itu baru reda jika ia memuntahkan semua isi perut dan kerongkongannya. Duuh Gustiiii…kenapa tidak Kau pindahkan saja rasa sakitnya padaku Nyerii rasanya hatiku melihat rautnya yang seperti itu. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia pada putriku. Tapi batuknya tak kunjung hilang dan ingusnya masih meler saja. Lima hari kemudian, Lala pun segera kubawa ke huisart. Dan lagi-lagi dokter itu mengecewakan aku.

"Just drink a lot," katanya ringan.

Aduuuh Dook! Tapi anakku tuh matanya sampai kayak mata sapi melotot kalau batuk, batinku kesal.

"Apa nggak perlu dikasih antibiotik Dok?" tanyaku tak puas.

"This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik," jawabnya lagi.

Ggrh…gregetan deh rasanya. Lalu ngapain dong aku ke dokter, kalo tiap ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat. Paling enggak kasih vitamin keq! omelku dalam hati.
"Lalu Dok, buat batuknya gimana Dok? Batuknya tuh betul-betul terus-terusan," kataku ngeyel.

Dengan santai si dokter pun menjawab,"Ya udah beli aja obat batuk Thyme syrop. Di toko obat juga banyak koq."
Hmm…lumayan lah… kali ini aku pulang dari dokter bisa membawa obat, walau itu pun harus dengan perjuangan ngeyel setengah mati dan walau ternyata isi obat Thyme itu hanya berisi ekstrak daun thyme dan madu.

"Kenapa sih negara ini, katanya negara maju, tapi koq dokternya kayak begini." Aku masih saja sering mengomel soal huisart kami kepada suamiku. Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim dengan internet. Jadi yang ada di kepalaku, cara berobat yang betul adalah seperti di Indonesia. Di Indonesia, anak-anakku punya langganan beberapa dokter spesialis anak. Dokter-dokter ini pernah menjadi dosenku ketika aku kuliah. Maklum, walaupun aku lulusan fakultas kedokteran, tapi aku malah tidak pede mengobati anakanakku sendiri. Dan walaupun anak-anakku hanya menderita penyakit sehari-hari yang umum terjadi pada anak seperti demam, batuk pilek, mencret, aku tetap membawa mereka ke dokter anak. Meski baru sehari, dua atau tiga hari mereka sakit, buru-buru mereka kubawa ke dokter. Tak pernah aku pulang tanpa obat. Dan tentu saja obat dewa itu, sang antibiotik, selalu ada dalam kantong plastik obatku.

Tak lama berselang putriku memang sembuh. Tapi sebulan kemudian ia sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini termasuk ringan, tapi hampir dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit. Karena khawatir ada yang tak beres, lagi-lagi aku membawanya ke huisart.

"Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya, kenapa ya Dok.?

Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya, dan lubang hidungnya,huisart-ku menjawab,"Nothing to worry. Just a viral infection."

Aduuuh Doook… apa nggak ada kata-kata lain selain viral infection seh! Lagilagi aku sebal.

"Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan Dok," aku ngeyel seperti biasa.

Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum. "Do you know how many times normally children get sick every year?"

Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. "enam kali," jawabku asal.

"Twelve time in a year, researcher said," katanya sambil tersenyum lebar. "Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak terlalu berat," sambungnya.
Glek! Aku cuma bisa menelan ludah. Dijawab dengan data-data ilmiah seperti itu, kali ini aku pulang ke rumah dengan perasaan malu. Hmm…apa aku yang salah? Dimana salahnya? Ah sudahlah…barangkali si dokter benar, barangkali memang aku yang selama ini kurang belajar.

Setelah aku bisa beradaptasi dengan kehidupan di negara Belanda, aku mulai berinteraksi dengan internet. Suatu saat aku menemukan artikel milik Prof. Iwan Darmansjah, seorang ahli obat-obatan dari Fakultas Kedokteran UI. Bunyinya begini: "Batuk - pilek beserta demam yang terjadi sekali-kali dalam 6 - 12 bulan sebenarnya masih dinilai wajar. Tetapi observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke dokter bisa terjadi setiap 2 - 3 minggu selama bertahun-tahun." Wah persis seperti yang dikatakan huisartku, batinku. Dan betul anak-anakku memang sering sekali sakit sewaktu di Indonesia dulu.

"Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan dalam penanganannya," Lanjut artikel itu. "Pertama, pengobatan yang diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 - 3 minggu dan perlu berobat lagi.

Lingkaran setan ini: sakit –> antibiotik-> imunitas menurun -> sakit lagi, akan membuat si anak diganggu panas-batuk-pilek sepanjang tahun, selama bertahun-tahun."

Hwaaaa! Rupanya ini lah yang selama ini terjadi pada anakku. Duuh…duuh..kemana saja aku selama ini sehingga tak menyadari kesalahan yang kubuat sendiri pada anak-anakku. Eh..sebetulnya..bukan salahku dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho! Masa sih aku tak percaya kepada mereka. Dan rupanya, setelah di Belanda 'dipaksa' tak lagi pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak sehari-hari, sekarang kondisi anak-anakku jauh lebih baik. Disini, mereka jadi jarang sakit, hanya diawal-awal kedatangan saja mereka sakit.

Kemudian, aku membaca lagi artikel-artikel lain milik prof Iwan Darmansjah. Dan di suatu titik, aku tercenung mengingat kata-kata 'pengobatan rasional'. Lho…bukankah dulu aku juga pernah mendapatkan kuliah tentang apa itu pengobatan rasional. Hey! Lalu kemana perginya ingatan itu? Jadi, apa yang selama ini kulakukan, tidak meneliti baik-baik obat yang kuberikan pada anak-anakku, sedikit-sedikit memberi obat penurun panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan seperti, batuk, pilek, demam, mencret, aku sudah panik dan segera membawa anak ke dokter, serta sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan yang sama sekali tidak rasional! Hmm... kalau begitu, sistem kesehatan di Belanda adalah sebuah contoh sistem yang menerapkan betul apa itu pengobatan rasional.

Belakangan aku pun baru mengetahui bahwa ibuprofen memang lebih efektif menurunkan demam pada anak, sehingga di banyak negara termasuk Amerika Serikat, ibuprofen dipakai secara luas untuk anakanak. Tetapi karena resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat ibuprofen juga tersedia di apotek dan boleh digunakan untuk usia anak diatas 6 bulan, namun di kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan pertama pada anak yang mengalami demam. "Duh, untung ya Yah aku nggak bilang ke huisart kita kalo aku ini di Indonesia adalah seorang dokter. Kalo iya malu-maluin banget nggak sih, ketauan begonya hehe," kataku pada suamiku.

Jadi, bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Aku tak ingin berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau orang-orang yang terpinggirkan, ceritanya bisa lain. Karena kekurangan dan ketidakmampuan, untuk kasus penyakit anak sehari-hari, orang-orang desa itu malah relatif 'terlindungi' dari paparan obat-obatan yang tak perlu. Sementara kita yang tinggal di kota besar, yang cukup berduit, sudah melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan media. Batuk pilek sedikit ke dokter, demam sedikit ke dokter, mencret sedikit ke dokter. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat, biasanya kita malah ngomel-ngomel, 'memaksa' agar si dokter memberikan obat. Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang dokter-dokter 'menjual' obat tertentu melalui media. Padahal mestinya dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.

Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak, anak malah gampang sakit dan terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa semua itu terjadi?

Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa. Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini seharusnya? Uh! Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa hitam. Aku tak tahu, sungguh!

Tapi yang pasti kini aku sadar…telah terjadi kesalahan paradigma pada kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya 'hanya' untuk konsultasi, memastikan diagnosa penyakit anakku dan penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik saja.

Tapi di Indonesia, bukankah paradigma yang masih kerap dipegang adalah ke dokter = dapat obat? Sehingga tak jarang dokter malah tidak bisa bertindak rasional karena tuntutan pasien. Aku juga sadar sistem kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi. Intinya, sistem kesehatan yang ada di Indonesia saat ini membuat dokter menjadi sulit untuk bersikap rasional.

Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Ah rasanya percuma mencari-cari ujung pangkal salahnya. Menunjuk siapa yang salah pun tak ada gunanya. Tapi kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini, mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Yang pasti, sebagai pasien kita pun tak bisa tinggal diam. Siapa bilang pasien tak punya kekuatan untuk merubah sistem kesehatan? Setidaknya, bila pasien 'bergerak', masalah kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan.

Dikutip dari buku "Smart Patient" karya dr. Agnes Tri Harjaningrum
— with Siti Maimunah and Lailie Amir.

:)